[PENGALAMAN MENJADI] ANGGOTA KPPS

Pada tulisan kali ini, saya hanya ingin bercerita mengenai pengalaman saya menjadi salah satu anggota KPPS yang merupakan kependekan dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara. Saya pertama kali juga kaget waktu ditawarin sama Ibu Idah yang merupakan Ibu RT tempat saya tinggal, mengingat reputasi saya yang gak pernah ikut-ikutan dan gak pernah diikutsertakan acara yang yang ada di daerah saya, mungkin gara-gara saya jarang ada di rumah juga, jadi dipikirnya saya gak akan bisa ikutan. Waktu ditawarin pertama kali, kalo gak salah awal-awal bulan Februari, yang kebetulan waktu itu lagi-lagi hot-hotnya deadline pengerjaan Tugas Akhir alias TA. Sempat menolak takutnya saya malah gak bisa hadir pas rapat-rapatnya gara-gara sibuk ngerjain TA, tapi karena Ibu RT-nya bilang gak usah ikut rapat entar juga sama dia dijelasin, ya udah akhirnya ikut degh. Tapi untungnya selama diadain rapat kebetulan jadwalnya kosong, jadi Alhamdulillah bisa ikutan rapatnya.

Nah, H-2 sebelum Pemilu tanggal 9 April 2009, atau tepatnya tanggal 7 April 2009, hari selasa, diadain rapat bersama terakhir semua ketua dan anggota KPPS yang ada di RW. 07 (kecuali satu KPPS yang gak bisa dateng, baik ketua maupun anggotanya) tanpa dihadiri Ketua RW. 07 maupun dari pihak PPS yang biasanya memberikan wejangan-wejangan, yang biasanya ada kalo ada rapat bersama. Ternyata isu utama yang diangkat pada rapat terakhir ini adalah masalah seperti biasa yaitu mengenai duit. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan “uang tenda” yang dilakukan oleh pihak RW., dan bukan oleh pihak masing-masing KPPS. Uang tenda ini merupakan uang yang dikhususkan untuk segala keperluan barang-barang selama masa Pemilu, seperti contohnya sewa bangku, sewa meja, sewa listrik, dll, yang nilainya sebesar Rp. 450.000,-. Yang menjadi permasalahan adalah tidak transparannya pihak RW dalam penggunaan biaya tenda tersebut. Apakah emang uangnya habis sebesar itu, ataukah ada sisa?, itulah yang menjadi isu utamanya. Dan penggunaan kuitansi kosong yang diminta pihak RW. untuk setiap masing-masing KPPS makin membuat keganjilan dalam penggunaan uang tenda tersebut.

Isu lain yang berkaitan dengan duit yaitu masalah honor. Dari rapat itu diketahui bahwa honor untuk Ketua KPPS sebesar Rp. 225.000,- sedangkan untuk anggota KPPS sebesar Rp. 200.000,- . Pada rapat tersebut banyak yang agak keberatan, karena menganggap honornya terlalu kecil dibandingkan dengan beban kerjaannya yang cukup banyak, apalagi ada isu kalo di tempat lain honor untuk anggota KPPS sebesar Rp. 450.000,- dan ketua KPPS sebesar Rp. 500.000,-. Ternyata masalah honor pun berkepanjangan, bahkan ada yang mau nelepon pihak KPU Bandung buat nanyain honor yang sebenernya. Dan mereka pun berprasangka bahwa pihak RW. pun ada main sama pihak yang diatasnya dalam hal ini PPK ataupun PPS dalam penyunatan duit ini. Kalo saya sama kebanyakan anggota lainnya sebenernya udah cukuplah duit segitu, lagian kerjanya juga gak rumit ini, cuman memang masalahnya mereka nggak nerima kalo duitnya emang bener disunat.

Setelah isu masalah duit selesai, hal lain yang dibahas pada rapat ini adalah pembuatan list barang-barang buat keperluan alat-alat pas Pemilu nanti. Mulai dari perencanaan penambahan lebar bilik suara yang lebarnya dirasa terlalu kecil dibandingkan kertas suaranya sampai alat-alat seperti keranjang buah-buahan buat penyimpanan surat suara pas perhitungan. Hal lain yang membuat lama pertemuan rapat adalah mengenai penempatan surat suara masing-masing partai dengan calegnya pada masing-masing kotak yang akan dibuat. Pada awalnya semua setuju penggunaan kotak tersebut, akan tetapi karena dirasa membutuhkan biaya yang cukup besar yaitu lebih dari 100 ribu per tiap KPPS buat bikin kotak tersebut, maka usulannya diubah jadi pemakaian plastik bening yang biasa digunakan buat masukin minyak goreng ataupun gula, biar lebih praktis.

Nah, habis pulang dari rapat bersama KPPS yang lain, tim KPPS 26 masih tetep ngumpul buat rapat, tetapi tempatnya pindah ke tempat ibu RT. Rapat kali ini lebih pada pembagian dulu duit honor sebesar 200 ribu tiap orangnya (kecuali untuk ketua 225 ribu), dan juga penjelasan adanya uang tambahan sebesar 425 ribu buat keperluan konsumsi serta untuk hal-hal lainnya.

Berikut ini rincian uangnya :

Honor 6 Anggota KPPS + 2 Linmas

:

@ Rp. 200.000,- : 8 x Rp. 200.000 = Rp. 1.600.000,-

Honor Ketua KPPS

:

Rp. 225.000,-

Uang tenda

:

Rp. 425.000,- (dikelola RW)

Uang konsumsi

:

Rp. 450.000,-

Total

:

Rp. 2.700.00,-

Setelah rapat selesai, saya iseng – iseng cari di internet, apa emang bener honor buat anggota KPPS sebesar 200 ribu, atau 450 ribu menurut isu yang beredar. Ternyata setelah ditelusuri, memang honor untuk anggota KPPS sebesar 200 ribu dan untuk ketua sebesar 225 ribu. Weleh-weleh, masalah duit emang sensitif!. (Nantikan kelanjutan pengalaman saya, pada postinagn berikutnya).

About these ads

2 thoughts on “[PENGALAMAN MENJADI] ANGGOTA KPPS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s