Iklan Djarum Super

Udah pernah liat iklan Djarum Super yang terbaru versi My Life, My Adventure – My Great Adventure Indonesia?, menurut saya iklan itu keren banget. Kayaknya cocok kalo dibuat menjadi salah satu iklan pariwisata Indonesia tahun ini. Iklan ini menampilkan berbagai bentang alam yang luar biasa indah yang ada di Indonesia, mulai dari Way Kambas, Rinjani, sungai-sungai di Kalimantan, dan banyak lainnya, so wonderfull. Memang inilah yang seharusnya ditampilkan pemerintah kita dalam mempromosikan pariwisata di Indonesia, keindahan akan berbagai bentang alamnya, yang tersebar di berbagai daerah-daerah di Nusantara.

Berbicara mengenai pariwisata, saya jadi inget tiga tahun yang lalu waktu ambil mata kuliah Geowisata dari Prodi Teknik Geologi. Waktu itu Pak Budi Brahmantyo (dosen Geowisata) bercerita bahwa ia pernah diundang sama pihak pemerintah daerah salah satu daerah di Malaysia (saya lupa lagi nama daerahnya) untuk melihat salah satu tempat wisata di daerah tersebut dengan jualan wisatanya memakai konsep geowisata. Jadi tempat wisata tersebut “menjual” berbagai bentang alam di daerah tersebut dipadukan dengan fasilitas hiburan yang cukup modern. Menurut Pak Budi, hal menarik setelah dia mengunjungi lokasi wisata tersebut adalah mengapa lokasi wisata tersebut bisa dikunjungi jutaan wisman tiap tahunnya, padahal dari segi keindahan bentang alam, sangat jauh lebih menarik kawasan-kawasan wisata yang ada di negara kita. Pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh Pak Budi, bahwa pemerintah disana mengemas lokasi wisata tersebut menjadi sesuatu yang menarik dan berkesan bagi wisatawan yang datang. Jadi, ketika wisatawan tersebut pulang ke daerah atau negaranya masing-masing, kesan tersebut akan terus diingat yang menyebabkan mereka ingin kembali ke sana, atau bahkan mereka dapat mengajak kawan atau saudara mereka untuk berwisata ke lokasi wisata tersebut. Sehingga tidak mengherankan kenapa Malaysia dapat menjaring rata-rata 20 juta wisatawan mancanegara tiap tahunnya, dan Indonesia hanya 4 atau 5 juta wisman tiap tahunnya.

Oke deh, saya coba bandingin kenapa berwisata ke Malaysia lebih berkesan bagi wisman dibandingkan berwisata ke Indonesia. Berhubung saya belum pernah berwisata ke Malaysia, jadi saya akan menceritakan pengalaman dari Pak Budi pas wisata ke Malaysia, dengan pengalaman saya berwisata ke daerah-daerah yang ada di Indonesia :D.

Hal pertama adalah soal infrastruktur. Di Malaysia, kata Pak Budi, infrastruktur di kawasan lokasi wisata sangat baik dan terawat, mulai dari jalan yang mulus, angkutan massal yang baik dan modern, serta sarana dan prasarana yang menunjang lainnya. Hal tersebut memudahkan para wisman dalam mencapai lokasi wisata serta memudahkan wisman mencapai lokasi wisata yang lain. Bandingkan dengan yang ada di Indonesia, banyak dari para wisatawan yang harus dengan segenap perjuangan untuk mencapai suatu lokasi wisata dan bahkan harus sering berdoa agar tidak menjadi kegiatan wisata maut. Jalan-jalan yang berlubang, membuat waktu tempuh menjadi sangat lama untuk mencapai suatu lokasi wisata, apalagi kalo pas rame-ramenya lokasi wisata tersebut dikunjungi, bisa jadi sebelum dateng kesana para wisatawan udah muter balik buat pulang, sangking udah gak sabarnya. Kalo pun nyampe ke sana, mungkin udah cape duluan di jalan plus wisatawan hanya menghabiskan waktu sebentar menikmati lokasi wisata tersebut. Dan bisa ditebak ke sananya, mungkin para wisatawan mikir dua kali buat balik kesana.

Sedangkan soal angkutan  massal, tau sendiri kan Indonesia bagaimana sistem transportasinya. Di Jakarta aja yang merupakan ibu kota negara masih amburadul, apalagi di daerah-daerah. Malaysia, mereka udah punya MRT udah dari dulu-dulu, dan kita masih aja sebatas rencana. Sistem jaringan transportasi mereka pun terintegrasi dengan sangat baik, memberi kemudahan bagi para wisatawan untuk mobile dari satu lokasi wisata ke lokasi wisata lainnya.

Yang kedua adalah soal kebersihan dan ketertiban. Masih ingat tulisan majalah Time baru-baru ini, yang mengatakan bahwa Bali sekarang adalah kawasan wisata neraka, di mana salah satunya gara-gara sampah yang berserakan di Pantai Kuta. Bayangkan daerah wisata sekelas Bali yang udah tarafnya internasional aja, pengelolaan sampahnya aja kayak gitu, ckckckck …..

Soal ketertiban apalagi. Orang kita kebanyakan gak sabaran, antre aja kadang gak mau, maen terobos2 aja. Di lokasi wisata, banyak orang yang melakukan aksi vandalisme, kayak coretan-coretan gak penting kayak “Eko was here (sorry ya yang namanya Eko, ini cuman contoh :D)” atau “Kutunggu Jandamu – kayak tulisan yang sering diliat di belakang truk”, bahkan sering ada yang buang air sembarangan di lokasi wisata, huffffff …….

Yang ketiga adalah soal premanisme. Kayaknya kata-kata bahwa orang kita ramah-ramah, tidak berlaku di tempat wisata di negara kita. Bagaimana tidak, saya pernah punya pengalaman waktu study tour pas SMP ke Jogjakarta. Pas sampai ke tujuan pertama, yaitu Candi Prambanan, sebelum saya dan kawan-kawan turun dari bus, udah ada orang yang masuk dengan gaya layaknya preman, berceramah dengan isinya intimidasi agar kita mau ngasih dia duit. Wew, sebuah penyambutan yang luar biasa dari orang yang saya kira penduduk sekitar candi. Setelah mendengar ceramah sambutan dari preman tadi, ternyata sambutan lain yang tidak kalah “baiknya” ditunjukkan pedagang-pedagang di sana. Bagaimana tidak, dari mulai turun bus sampai mau masuk ke area candi, saya bener-bener dipaksa buat beli barang dagangannya. Dan saya liat perlakuan mereka terhadap bule2 lebih parah, mereka lebih memaksa lagi dagangan mereka dengan harga yang lebih mahal daripada harga yang ditawarkan kepada wisatawan lokal. Mungkin karena mereka berfikir, isi dompet bule lebih tebal ketimbang wisatawan lokal. Berbeda dengan warga dan pemerintah di Malaysia, yang menyadari bahwa pariwisata merupakan potensi ekonomi yang luar biasa, mereka mencoba memberikan kenyamanan selama para wisman melancong ke negara mereka.

Mungkin tidak semua daerah wisata di Indonesia pengelolaannya kurang baik dan mungkin juga tidak semua daerah wisata di Malaysia dikelola secara profesional, akan tetapi secara umum harus kita akui bahwa pengelolaan wisata di negara kita masih jauh tertinggal dari Malaysia, dengan indikasi dilihat dari jumlah kunjungan wisman tiap tahunnya. Saatnya kita berbenah dan mengejar ketertinggalan dari Malaysia.

Sumber Gambar :

MRT – http://amdtaufik.com/malaysia/2011/02/klang-valley-mrt-open-day-2011/
Sampah di Pantai Kuta – http://www.beritabatavia.com/berita-6636–pantai-kuta-jorok-.html
Aksi Vandalisme – http://matanews.com/2009/12/08/hukuman-untuk-aksi-vandalisme-objek-wisata/
Premanisme – http://hukum.kompasiana.com/2010/05/20/premanisme-subur-karena-terpupuk/

About these ads

2 thoughts on “Iklan Djarum Super

  1. Banyak yang harus dibenahi di negara ini, termasuk masalah pariwisata. Dulu saya ingat kata Dosen mata kuliah pariwisata saya, Singapur selalu mengajak wisatawannya untuk ke pantai yang indah, eh ternyata yang dijual adalah Bali. Jadi tuh wisatawan tahunya Bali bagian dari Singapur, cape deh :(

    • Yups bener ……
      Mungkin yang agak lumayan profesional pengelolaannya ya Bali. Ntar, kalo dikasih tempat lain, takutnya ketaun amatirnya kita dalam mengelola pariwisata, hehehe ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s