Sistem Informasi Geografis

Postingan kali ini akan diisi kembali oleh kawan saya, Gilang Ginanjar Natari dari Jurusan Teknologi dan Manajemen Industri Pertanian – Universitas Padjajaran. Tulisan pada postingan ini berdasarkan tugas mata kuliah Sistem Informasi Geografis (SIG), dengan judul : “Peranan SIG Dalam Upaya Ameliorasi Tanah yang Disebabkan oleh Gelombang Pasang” yang dibuat pada tahun 2007. Selamat membaca :smile:

A.    Latar Balakang SIG

Perkembangan pemanfaatan data spasial dalam dekade belakangan ini meningkat dengan sangat drastis. Hal ini berkaitan dengan meluasnya pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perkembangan teknologi dalam memperoleh, merekam dan mengumpulan data yang bersifat keruangan (spasial). Teknologi tinggi seperti Global Positioning System (GPS), remote sensing dan total station, telah membuat perekaman data spasial digital relatif lebih cepat dan mudah. Kemampuan penyimpanan yang semakin besar, kapasitas transfer data yang semakin meningkat, dan kecepatan proses data yang semakin cepat menjadikan data spasial merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari perkembangan teknologi informasi.

Sistem informasi atau data yang berbasiskan keruangan pada saat ini merupakan salah satu elemen yang paling penting, karena berfungsi sebagai pondasi dalam melaksanakan dan mendukung berbagai macam aplikasi. Sebagai contoh dalam bidang lingkungan hidup, perencanaan pembangunan, tata ruang, manajemen transportasi, pengairan, sumber daya mineral, sosial dan ekonomi, dll. Oleh karena itu berbagai macam organisasi dan institusi menginginkan untuk mendapatkan data spasial yang konsisten, tersedia serta mempunyai aksesibilitas yang baik. Terutama yang berkaitan dengan perencanaan ke depan, data geografis masih dirasakan mahal dan membutuhkan waktu yang lama untuk memproduksinya (Rajabidfard, A. dan I.P. Williamson 2000).

B. Definisi SIG

Sistem Informasi Geografis adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berreferensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.

Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

SIG memiliki banyak nama alternatif yang sudah digunakan bertahun-tahun menurut cakupan aplikasi dan bidang khusus masing-masing, sebagai berikut.

-          Sistem Informasi Lahan (Land Information System – LIS)

-          Pemetaan terautomatisasi dan Pengelolaan Fasilitas (AM/FM-Automated  Mapping and Facilities Management)

-          Sistem Informasi Lingkungan (Environmental Information System -EIS)

-          Sistem Informasi Sumber Daya (Resources Information System)

-          Sistem Informasi Perencanaan (Planning Information System)

-          Sistem Penanganan Data keruangan (Spatial Data Handling System)

SIG kini menjadi disiplin ilmu yang independen dengan nama “Geomatic”, “Geoinformatics”, atau “Geospatial Information Science” yang digunakan pada berbagai departemen pemerintahan dan universitas. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan SIG untuk pengelolaan lingkungan [Walker 1991]:

  1. SIG mempunyai kemampuan untuk menjalankan fungsi-fungsinya yang membantu dalam pemetaan dan pemodelan data lingkungan;
  2. SIG menyediakan tool untuk mengintegrasikan data-data yang berbeda;
  3.  Ada banyak prospek dalam penggunaan SIG untuk pengelolaan lingkungan, terlebih dlam mendeteksi dan memvisualisasi pola (pattern) dan proses lingkungan;
  4. SIG akan menjadi inti dalam eksplorasi spasial yang membantu pembelajaran terhadap pola dan proses lingkungan.

C. Manfaat SIG

Dengan SIG kita akan dimudahkan dalam melihat fenomena kebumian dengan perspektif yang lebih baik.SIG mampu mengakomodasi penyimpanan, pemrosesan, dan penayangan data spasial digital bahkan integrasi data yang beragam, mulai dari citra satelit, foto udara, peta bahkan data statistik. Dengan tersedianya komputer dengan kecepatan dan kapasitas ruang penyimpanan besar seperti saat ini, SIG akan mampu memproses data dengan cepat dan akurat dan menampilkannya. SIG juga mengakomodasi dinamika data, pemutakhiran data yang akan menjadi lebih mudah.

Sebagai contoh seperti kondisi Aceh yang beberapa waktu lalu dihempas tsunami yang mengakibatkan korban dan kerugian yang banyak sekali. Dengan citra satelit yang beresolusi tinggi kita dapat melihat kondisi suatu lokasi dipermukaan bumi secara akurat. Kemudian hasil survey dilapangan dapat langsung dimasukkan dalam database spasial yang telah ada sebelumnya untuk mengetahui lokasi rawan dan butuh segera ditangani. Informasi tersebut kemudian bisa di upload ke internet dan tersebarlah informasi ke penjuru dunia. Gambar dibawah ini merupakan salah satu citra Ikonos yang merekam sebelum dan sesudah kejadian tsunami di Aceh (http://www.disasterscharter.org/).

Integrasi data citra satelit seperti yang tampak pada gambar tersebut dengan data-data yang lain menggunakan SIG akan menghasilkan informasi baru yang benar-benar sangat membantu sekali. Seperti saat ini dalam proses pemulihan kembali Aceh, rekan-rekan yang berkarya dibidang SIG sedang melakukan penyusunan data spasial kembali. Hasil proyeksi tersebut akan sangat membantu dalam proses ameliorasi tanah yang disebabkan oleh gelombang pasang, salah satu contohnya yaitu di provinsi Aceh tersebut.

Gambar 1. Citra Ikonos Sebelum dan Sesudah Kejadian Tsunami Di Provinsi Aceh

Manfaat khusus yang dapat diperoleh yaitu :

  • Memberikan gambaran spatial (tata ruang) secara detail dan akurat terhadap lokasi-lokasi yang memiliki kemampuan untuk terkena bencana alam khususnya yang disebabkan oleh kenaikan tinggi permukaan air laut ataupun gelombang pasang untuk keperluan kajian dan analisis berbagai potensi yang ada di wilayah pesisir.
  • Memberikan prediksi-prediksi tentang waktu dan frekuensi kedatangan gelombang pasang, sehingga melalui prediksi tersebut dapat dilakukan tindakan-tindakan pencegahan dengan dukungan sumber daya alam dan ekplorasi manusia di wilayah tersebut.
  • Prediksi tentang bahaya bencana alam yang diakibatkan oleh air, terutama tsunami.
  •  Membuat perencanaan dan langkah konkrit untuk merestorasi ulang kemampuan daya dukung lingkungan yang sudah merosot seperti gerakan penghijauan, khususnya di daerah aliran sungai untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah dan kelangsungan pasokan sumber air dan cadangan air tanah tetap terpenuhi untuk masyarakat di wilayah tersebut.

Manfaat umum yang dapat diperoleh yaitu :

  • Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan perencanaan pembangunan daerah, khususnya yang terkait dengan tata ruang (landscape) dan tata guna lahan (landuse) di wilayah byang dikaji. Dalam hal ini instansi pemerintah daerah yang sangat terkait adalah BAPPEDA dan KIMPRASDA khususnya dalam pembuatan masterplan arah dan siteplan pembangunan kawasan.
  • Bagi Dinas Kehutanan Peta ini sangat bermanfaat dalam penentuan arah kebijakan dalam mencanangkan gerakan reboisasi dan restorasi lahan-lahan kritis, khususnya di daerah dengan tingkat elevasi yang tinggi agar erosi dan bahaya longsor dapat diatasi dengan tepat.
  • Untuk Dinas Pengairan Dan Perusahaan Air Minum Daerah peta ini sangat menunjang dalam perencanaan dan penataan ketersediaan air tanah dan mengontrol debit air tanah dan resapan agar kebutuhan air untuk air minum dan pertanian/perikanan dapat tercukupi dengan baik.
  • Membantu dalam pengalokasian proyek-proyek daerah agar tepat pada sasarannya, tidak hanya memperhatikan data numerik saja (angka-angka) tetapi lebih ditunjang oleh data spasial.
  • Monitoring dan evaluasi pembangunan dengan tetap memperhatikan peta liputan lahan setiap saat serta perubahan yang lahan yang terjadi, sehingga dengan demikian secara umum dalam setiap langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah senantiasa memperhatikan AMDAL terlebih dahulu.

D. Peranan SIG

1. Meningkatkan pengintegrasian organisasi

Banyak organisasi yang sudah mengimplementasi SIG menemukan kenyataan, bahwa keuntungan utama yang mereka dapatkan adalah peningkatan kinerja manajemen terhadap organisasi maupun pengelolaan sumberdayanya. hal itu terjadi karena SIG memiliki kemampuan untuk menghubungkan berbagai perangkat data secara bersamaan berdasarkan geografis, memfasilitasi informasi-informasi yang terjadi antar bagian, untuk saling termanfaatkan dan dikomunikasikan.

Dengan membuat sebuah database yang bisa dimanfaatkan bersama, maka sebuah bagian akan memperoleh keuntungan dari hasil kerja dari bagian lain, di mana akan berlaku ketentuan, bahwa data cukup sekali dikoleksi, tetapi bisa dimanfaatkan berkali-kali.

2. Membuat keputusan-keputusan lebih sempurna

SIG bukan sebuah sistem yang mampu membuat keputusan secara otomatis. SIG hanya sebuah sarana untuk pengambilan data, menganalisanya, dari kumpulan data berbasis pemetaan untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

Teknologi SIG banyak digunakan untuk membantu berbagai kegiatan pekerjaan seperti penyajian informasi pada saat pembuatan perencanaan, membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kekacauan teritorial.

SIG juga bisa digunakan untuk membantu meraih keputusan mengenai lokasi perumahan baru yang memiliki sesedikit mungkin pengaruh lingkungan, berada di lokasi yang memiliki resiko paling sedikit, dan berada dekat dengan pusat kegiatan kependudukan.

Informasi bisa disajikan secara ringkas dan jelas berupa gambar peta, yang dilampiri dengan laporan, memungkinkan para pemgambil keputusan untuk memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah nyata dibanding dengan upaya memahami data. Karena produk SIG bisa dibuat secepatnya, dengan berbagai skenario, untuk kemudian dievaluasi secara efektif dan efisien.

3. Membantu membuat peta

Peta merupakan kunci pada SIG. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan SIG jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.

Dimulai dengan membuat database. gambar peta yang sudah ada bisa digambar dengan digitizer, dan informasi tertentu kemudian bisa diterjemahkan ke dalam SIG. Database kartografi berbasis SIG dapat bersambungan dan bebas skala.

Peta-peta kemudian bisa diciptakan terpusat di berbagai lokasi, dengan sembarang skala, dan menunjukkan informasi terpilih, yang mencerminkan secara efektif untuk menjelaskan suatu karakteristik khusus.

Sifat-sifat sebuah atlas dan serangkaian peta dapat direkam pada program komputer, dan dibandingkan terhadap database pada akhir proses produksi. Produk digital digunakan untuk SIG yang lain bisa dilakukan dengan sederhana, hanya dengan membuat salinan data dari database. Pada organisasi yang besar, database topografi bisa dimanfaatkan untuk kerangka referensi oleh bagian yang lain.

Batas-batas Fisik Wilayah Pesisir

 

E. Aplikasi SIG

1. Minyak/Gas dan Listrik/Air

Contoh aplikasi-aplikasi SIG untuk perusahaan minyak, gas dan distribusinya yaitu :

  • Minyak dan Gas
    • Automated basemapping
    • Eksplorasi
    • Manajemen Persewaan
    • Pengeboran
    • Produksi
    • Manajemen Penyimpanan
    • Manajemen Kilang
    • Distribusi Produk
    • Manajemen Kapal Tanker
  • Pipa
    • Perencanaan dan Pemilihan Rute
    • Regulatory reporting
    • Construction Emergency response maps
    • Pipeline alignment sheet generation
    • Location maps
    • Risk assessment
    • Corrosion analysis
    • Asset profitability analysis
    • Supply and market analysis

2.      Telekomunikasi

Solusi SIG bagi perusahaan telekomunikasi, yang meliputi

  • Fasilitas dan pemetaan kawasan
  • Rute penempatan kabel
  • Pengembangan ‘halaman kuning’ secara elektronik
  • Aplikasi penanganan pelanggan
  • Pengembangan penyimpanan data
  • Pemilihan penempatan fasilitas
  • Sistem penanganan kegagalan sambungan

3.      Transportasi

  • Manajemen Prasarana Transportasi

SIG digunakan untuk mengelola dan menganalisa berbagai informasi dengan geografi sebagai komponen utamanya. lebih dari 80 persen dari informasi digunakan untuk mengelola jalan, jalur kereta api, fasilitas pelabuhan, sebagai komponen utamanya. SIG bisa dimanfaatkan untuk menentukan lokasi dari suatu peristiwa atau aset dan keterkaitannya atau kedekatannya antara satu dengan lainnya terhadap peristiwa atau aset yang lainnya, di mana hal tersebut merupakan faktor-faktor kritis yang harus diperhatikan untuk memutuskan suatu desain, pembangunan, atau pemeliharaan.

  • Manajemen logistik dan kendaraan

Sebuah kegiatan operasi yang efisien membutuhkan sebuah keputusan yang akurat dan tepat waktu. Misalnya mengetahui sedang berada di manakah kendaraan, pikup, atau aktivitas penghantaran pada saat itu, memungkinkan untuk pendayagunaan aset secara optimal dan penghematan. Kepuasan pelanggan, posisi yang bersaing, respons yang sigap, pendayagunaan yang efektif, serta kemungkinan untuk menghasilkan keuntungan di berbagai kemungkinan yang bisa diraih.

  • Manajemen Transit.

Perencanaan rute, pengiriman teknisi, analisa pelayanan, penanganan pemasaran dan hubungan komunitas, dan pola transit akan diperoleh keuntungan dengan cara melakukan pemahaman sebaik-baiknya terhadap kendaraan transit, rute perjalanan, dan fasilitas lokasi.

Rute perjalanan dapat dikelola secara langsung melalui database jaringan jalan dan dikaitkan terhadap pusat kependudukan dan karyawan, seperti pada sistem database dari sebuah skedul.

  • Lingkungan dan Geologi

Untuk membantu melakukan perlindungan terhadap lingkungan. Sebagai seorang profesional di bidang lingkungan, maka Anda dapat menafaatkan SIG untuk membuat peta, catatan populasi spesies, mengukur pengaruh lingkungan, serta menelusuri peristiwa keracunan dan polusi. Aplikasi SIG berkenaan dengan lingkungan, rasanya, hampir tanpa batas jumlahnya.

4.      Pertanian, Kehutanan

o    Mengelola Produksi Tanaman

SIG dapat digunakan untuk membantu mengelola sumberdaya pertanian dan perkebunan seperti luas kawasan untuk tanaman, pepohonan, atau saluran air. Anda dapat menggunakan SIG untuk menetapkan masa panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan perhitungan secara tahunan terhadap kerusakan tanah yang terjadi karena perbedaan pembibitan, penanaman, atau teknik yang digunakan dalam masa panen.

o    Mengelola Sistem Irigasi

Anda dapat menggunakan SIG untuk membantu memantau dan mengendalikan irigasi dari tanah-tanah pertanian. SIG dapat membantu memantau kapasitas sistem, katup-katup, efisiensi, serta distribusi menyeluruh dari air di dalam sistem.

o    Perencanaan dan riwayat sumberdaya kehutanan

Contoh aplikasinya yaitu Perencanaan dan riwayat manajemen pertanahan; Integrasinya dengan sistem hokum; dan Integrasinya dengan manajemen basis data relasional Sistem-sistem.

5. Pemerintahan

Berikut ini adalah berbagai contoh dari berbagai macam rancangan SIG dan layanan pengembangannya :

o    Catatan Pertanahan

Contohnya yaitu pemetaan kavling, taksiran property, Integrasi multimedia, dan Pusat Layanan umum.

o    Manajemen Properti dan Fasilitas

Contohnya yaitu : pembebasan Tanah dan Peruntukannya, dan Pembangunan dan Persediaan Perumahan

  •  Perencanaan Tataguna Tanah dan Pengaturannya

Contohnya yaitu : Pemetaaan Rencana Umum dan Analisanya, Pemetaan Kawasan dan Penjejakan Masalah, Analisis Demografi dan Pemetaan, Pembangunan Ekonomi, Keterkaitannya dengan Sistem Perijinan.

o    Rekayasa

Contohnya yaitu pemetaan Pematusan dan Analisanya, Pengkajian Subdivisi/Pemetaan Bagian-bagian, Penataan rute jalan, sanitasi, dan lainnya.

o    Keselamatan Masyarakat

Contohnya yaitu Perencanaan persiapan keadaan darurat, Respon dan Penanggulangan Keadaan Darurat, Analisa Kriminal, Perencanaan Patroli, Pengaturan rute respon keadaan darurat, Analisis penempatan fasilitas

F. Teknik Umum Pengolahan Data Pada SIG

SIG membutuhkan masukan data yang bersifat spasial maupun deskriptif. Beberapa sumber data tersebut antara lain adalah Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah, dsb.). Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angina dsb. Peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan berbagai cara yang akan dibahas selanjutnya. Referensi spasial dari peta analog memberikan koordinat sebenarnya di permukaan bumi pada peta digital yang dihasilkan. Biasanya peta analog direpresentasikan dalam format vektor.

1. Data dari sistem Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit, foto-udara, dsb.)

Data Pengindraan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala. Dengan adanya bermacammacam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing, kita bias menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.

2. Data hasil pengukuran lapangan

Contoh data hasil pengukuran lapang adalah data batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb., yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut.

3. Data GPS

Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.

Teknik memasukkan data spasial dari sumber-sumber sebagaimana disebutkan di atas dilakukan melalui beberapa jenis kegiatan antara lain:

1. Digitasi

Digitasi merupakan proses konversi dari peta analog menjadi peta digital dengan mempergunakan meja digitasi. Cara kerjanya adalah dengan mengkonversi fiturfitur spasial yang ada pada peta menjadi kumpulan koordinat x,y. Untuk menghasilkan data yang akurat, dibutuhkan sumber peta analog dengan kualitas tinggi. Dan untuk proses digitasi, diperlukan ketelitian dan konsentrasi tinggi dari operator. Dalam mempelajari digitasi, kita menggunakan perangkat lunak PC ARC/INFO. Prosedur dan tata cara pengerjaannya akan diberikan secara detail dengan maksud untuk memberikan garis besar dari konsep SIG dan melatih cara mendigitasi peta dengan menggunakan PC ARC/INFO.

2. Penggunaan GPS

Data spasial lain dalam bentuk digital seperti data hasil pengukuran lapang dan data dari GPS bisa dimasukkan dalam sistem SIG. Pada intinya SIG membutuhkan data spasial dalam format tertentu untuk membedakan apakah data tersebut berupa point, line atau polygon. GPS singkatan dari Global Positioning System (Sistem Pencari Posisi Global), adalah suatu jaringan satelit yang secara terus menerus memancarkan sinyal radio dengan frekuensi yang sangat rendah. Alat penerima GPS secara pasif menerima sinyal ini, dengan syarat bahwa pandangan ke langit tidak boleh terhalang, sehingga biasanya alat ini hanya bekerja di ruang terbuka. Satelit GPS bekerja pada referensi waktu yang sangat teliti dan memancarkan data yang menunjukkan lokasi dan waktu pada saat itu. Operasi dari seluruh satelit GPS yang ada disinkronisasi sehingga memancarkan sinyal yang sama. Alat penerima GPS akan bekerja jika ia menerima sinyal dari sedikitnya 4 buah satelit GPS, sehingga posisinya dalam tiga dimensi bisa dihitung. Pada saat ini sedikitnya ada 24 satelit GPS yang beroperasi setiap waktu dan dilengkapi dengan beberapa cadangan. Satelit tersebut dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, mengorbit selama 12 jam (dua orbit per hari) pada ketinggian sekitar 11.500 mile dan bergerak dengan kecepatan 2000 mil per jam. Ada stasiun penerima di bumi yang menghitung lintasan orbit setiap satelit dengan teliti.

3. Konversi dari sistem lain

Teknik pemasukan data ke dalam SIG dengan menggunakan lajur elektronik (spreadsheet) merupakan cara konversi yang umum digunakan. Hal ini terutama apabila kita ingin memaduserasikan antara data spasial dan data tabular. Persyaratan yang dibutuhkan adalah adanya suatu identitas unik yang dimiliki bersama oleh data tabular dan data spasial, sehingga dapat dilakukan interaksi antarkedua jenis data.

G. Hasil Tampilan Data

Sistem tampilan data menggunakan perangkat lunak ArcView versi 3.2. Data spasial disajikan dengan konsep layer data dan atribut, yaitu representasi data spasial menjadi sekumpulan peta thematik yang berdiri sendiri-sendiri sesuai dengan tema masing-masing, tetapi terikat dalam suatu kesamaan lokasi  Keuntungan dari konsep data layer adalah mudahnya proses penelusuran dan analisa spasial serta efisiensi pengelolaan data.

Terminologi yang digunakan pada ArcView yang perlu dipahami antara lain:

  • Theme: Sebuah layer grafis yang memuat kumpulan fitur geografis dan informasi atributnya. Sebuah theme biasanya memuat informasi geografis dengan tema tertentu untuk sebuah tipe fitur tunggal. Bisa berupa vector ataupun citra (contoh: SUNGAI.SHP, LCOVER_GRD, etc.).
  • Table: Sebuah file data yang berisi informasi atribut dari suatu fitur geografis dalam bentuk tabel. Kolom memuat atribut dan baris memuat record. Table adalah file dalam format TXT atau DBF yang mempunyai kolom yang bias digabungkan dengan theme (contoh: KOORDINAT.TXT, PENDUDUK.DBF).
  • View: Sebuah wadah dimana theme ditampilkan. Bila View memuat lebih dari satu theme maka theme-theme tersebut akan ditampilkan secara berurutan dari bawah ke atas. Komposisi peta yang ditampilkan merupakan hasil overlay dari beberapa theme.
  • Layout: Sebuah wadah untuk merancang output peta yang akan dibuat. Anda bias menyusun view dan mengatur letak obyek (legend, scale bar, etc.) sesuai dengan yang anda inginkan sebelum mencetaknya.
  • Project: Sebuah file ArcView yang menyimpan data (theme dan table) dan output (view, layout) yang dibuat oleh user untuk suatu aplikasi tertentu. Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dan sangat penting dalam pekerjaan ini, dimana kualitas dari hasil pekerjaan ini akan sangat tergantung pada kualitas data yang tersedia dan diperoleh. Sebelum digunakan dalam analisis, data yang terkumpul perlu diseleksi dan dikaji mengenai keakuratan dan validitasnya sehingga dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut maupun ditampilkan sebagai informasi.

Gambar 1. 3 Konsep Layer

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s