Sumur Resapan (3)

Postingan berikut merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya yaitu Sumur Resapan (1) dan Sumur Resapan (2)

3. Air hujan dari talang langsung dimasukkan ke dalam sumur resapan melalui pipa paralon (pipa masukkan). Untuk air hujan yang turun di area rumah selain yang berasal dari talang air, kita dapat membuat semacam selokan / got kecil, yang dibuat dengan kemiringan tertentu, sehingga air yang masuk ke dalam selokan / got kecil tersebut bisa masuk ke dalam sumur resapan.

Gambar 10. Pipa Masukkan dan Pipa Keluaran pada Sumur Resapan

4. Pada sumur resapan diberi pipa pembuang ke selokan / drainase jalan. Ketinggian pipa pembuangan harus lebih tinggi dari muka air tanah tertinggi pada selokan drainase jalan tersebut.

5. Untuk sumur resapan yang dindingnya menggunakan perkerasan dari buis beton, di bagian dasarnya buatlah ceruk (lubang) sekitar 15 – 70 cm, kemudian isi dengan pecahan batu dengan ukuran 20 cm sampai dengan 30 cm (kita bisa menggunakan batu krakal / koral), serta pecahan batu bata ukuran antara 5 cm sampai dengan 10 cm di bagian dasar lubang, lalu tutup dengan ijuk atau geotekstil.

Sedangkan untuk sumur resapan dimana dindingnya menggunakan batu batu, pada bagian dasarnya tidak perlu dilakukan pembuatan ceruk (lubang), akan tetapi pada bagian dasarnya kita langsung tutup dengan batu serta ijuk atau geotekstil. Fungsi ijuk dan batu-batuan yang kita letakkan di bagian dasar sumur resapan yaitu sebagai penyaring kotoran yang ikut mengalir bersama air hujan, sehingga kotoran tersebut tidak ikut masuk ke dalam sumur resapan.

Pada sumur resapan dimana dinding sumurnya tidak menggunakan perkerasan / lapisan, kita isi semua bagian dari sumur resapan dengan ijuk / geotekstil dan juga batu (sebagai alternatif pengganti batu, bisa digunakan puing yang sudah dibersihkan dan terbuat dari bahan organik).

6. Bagian atas sumur resapan kita tutup dengan plat beton bertulang dengan tebal 10 cm yang dicampur dengan satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil. Selain itu, kita bisa gunakan plat beton tidak bertulang sebagai tutup sumur resapan, dengan bentuk cubung dan jangan diberikan beban diatasnya, sedangkan ketebalan dan perbandingan bahan campurannya sama dengan tutup sumur resapan dari plat beton bertulang. Ferrocement setebal 10 cm juga bisa dijadikan alternatif lain yang bisa dijadikan tutup sumur resapan.

7. Untuk menyamarkan sekaligus mempercantik sumur resapan yang ada pada area rumah, kita bisa menaruh tanaman diatas lahan pembuatan sumur resapan.

Gambar 11. Menanam Tanaman Pada Lahan yang Digunakan untuk Pembuatan Sumur Resapan

Langkah pembuatan sumur resapan diperuntukkan untuk rumah yang mempunyai talang air. Sedangkan untuk rumah tanpa talang air, kita dapat melihat desain pembuatan sumur resapan di bawah ini (berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 68 Tahun 2005) :

Gambar 12. Desain Pembuatan Sumur Resapan Pada Bangunan Tidak Bertalang

Dari gambaran desain diatas terlihat bahwa, kita harus membuat selokan / got kecil yang berada di sepanjang curahan air hujan dari bagian atap rumah. Buatlah selokan / got kecil tersebut dengan lebar sekitar 20 cm sampai dengan 30 cm dan kedalaman antara 10 cm – 15 cm. Gunakan penyaring pada ujung selokan atau got kecil tersebut, sehingga kotoran tidak ikut masuk ke dalam sumur resapan.

Langkah pengerjaan pembuatan sumur resapan diatas termasuk ke dalam pembuatan sumur resapan model tunggal, karena satu  sumur resapan digunakan untuk air hujan yang berasal dari area satu rumah. Namun jika dirasakan area halaman rumah kita terlalu sempit, maka bisa dibuat sumur resapan dengan menggunakan model komunal. Dengan model komunal ini, satu sumur resapan dapat digunakan oleh beberapa rumah sekaligus. Biasanya pembuatan sumur resapan dilakukan pada area bahu jalan.

Gambar 13. Sketsa Pembuatan Sumur Resapan dengan Model Komunal

Dari sketsa diatas terlihat bahwa satu pembuatan sumur resapan dapat digunakan setidaknya oleh 6 rumah sekaligus, dimana sumur resapan dibuat pada bahu jalan di dekat area rumah kita. Kita hanya membutuhkan pipa paralon yang cukup panjang sebagai pipa masukkan air hujan dari talang air rumah kita menuju sumur resapan yang ada pada bahu jalan (pipa masukkan yang diperlukan lebih panjang dibandingkan dengan pipa masukkan pada sumur resapan model tunggal), dan jangan lupa untuk tetap membuat pipa pembuangan menuju ke drainase area perumahan kita.

Gambar 14. Sketsa Pembuatan Sumur Resapan dengan Model Komunal (2)

Gambar sketsa pembuatan sumur resapan dengan model komunal (2), menunjukkan secara lebih jelas bagaimana sumur resapan model komunal ini bekerja.

Mudah bukan cara pembuatan sumur resapan ini?, dengan teknologi konservasi air yang sederhana ini, manfaat yang akan kita rasakan sangatlah besar. Oleh karena itu, mari kita bergerak menjaga dan menyelamatkan air serta lingkungan kita dengan cara pembuatan sumur resapan di area rumah kita sendiri.

Sumber Gambar :

Gambar 10 dan 12 :

http://miningundana07.wordpress.com/2010/04/15/sumur-resapan/

Gambar 11 :

http://beritabaik.wordpress.com/tag/sumur-resapan/

Gambar 13 dan 14 :

http://recyclearea.wordpress.com/2011/01/25/yuk-kita-jaga-air-dengan-teknologi-sederhana-1/)

Referensi :

http://dwifatrinapputeri.ngeblogs.com/2010/01/04/cegah-banjir-dengan-sumur-resapan/

http://grobogan.go.id/info-daerah/artikel/337-teknis-perancangan-sumur-resapan.html

http://miningundana07.wordpress.com/2010/04/15/sumur-resapan/

http://recyclearea.wordpress.com/2011/01/25/yuk-kita-jaga-air-dengan-teknologi-sederhana-1/

http://robbicahyadi.wordpress.com/2009/01/19/membuat-sumur-resapan/

http://sumurresapan.blogspot.com/2008/10/rumah-bertalang-air.html

http://sumurresapan.blogspot.com/2008/10/rumah-tidak-bertalang-air.html

http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/Buku10Patek/09SUMUR.pdf


Sumur Resapan (2)

Postingan berikut merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya yaitu Sumur Resapan (1).

  • Cara Pembuatan Sumur Resapan

Sebelum kita membuat sumur resapan pada area halaman rumah kita, ada beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, yaitu :

1.    Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.

2.    Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari pondasi bangunan.

3.    Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.

4.    Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2.0 cm per jam (artinya, genangan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu :

• Permeabilitas sedang, yaitu 2.0 – 3.6 cm per jam.

• Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3.6 – 36 cm per jam.

• Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam.

Jika area halaman rumah kita dapat memenuhi persyaratan umum yang telah ditetapkan berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, maka langkah kita berikutnya adalah mempersiapkan bahan dan alat yang akan kita pergunakan dalam pembuatan sumur resapan.

  • Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan sumur resapan ini mudah kita temukan disekitar kita atau dapat kita cari serta kita beli dengan harga yang cukup terjangkau di toko-toko material. Bahan utama yang diperlukan untuk pembuatan sumur resapan antara lain seng plastik, paralon, buis beton atau bisa diganti demgan bata, ijuk / geotekstil, batu koral atau batu krakal, serta plat beton.

Seng plastik kita gunakan untuk menampung air hujan yang berasal dari genting. Paralon sendiri merupakan media untuk mengalirkan air yang sudah ditampung oleh seng plastik menuju sumur resapan. Sedangkan buis beton atau bata kita pergunakan sebagai dinding dari sumur resapan yang akan kita buat (penggunaan buis beton atau bata tergantung dari kondisi lahan serta kualitas air di sekitar lingkungan kita – lebih lengkapnya akan dijelaskan pada langkah pembuatan sumur resapan). Penggunaan ijuk / geotekstil serta batu koral / batu krakal berfungsi agar kotoran tidak ikut masuk ke dalam sumur resapan (lebih lengkapnya akan dijelaskan pada langkah pembuatan sumur resapan).

Gambar 3. Bahan Utama Pembuatan Sumur Resapan

Gunakan buis beton (minimal 3 buah) dengan diameter 100 cm dan tingginya sekitar 50 cm. Sedangkan ketebalan plat beton, yang nantinya digunakan sebagai penutup bagian atas dari buis beton, tebalnya sekitar 100 mm atau 10 cm (lihat gambar diatas). Ukuran seng plastik disesuaikan dengan kondisi rumah kita masing-masing, sedangkan ukuran dan panjang paralon juga disesuaikan dengan kondisi serta luas lahan pada area yang akan dibuat sumur resapan.

Setelah bahan utama telah tersedia, kita persiapkan juga alat-alat yang akan kita perlukan dalam pembuatan sumur resapan tersebut, yaitu :

Alat ukur (meteran)

Gambar 4. Meteran

Alat untuk menggali tanah

Gambar 5. Cangkul dan Sekop

  • Langkah Pengerjaan Pembuatan Sumur Resapan

Setelah bahan dan alat untuk pembuatan sumur resapan telah tersedia dengan lengkap, maka kita dapat memulai pengerjaan pembuatan sumur resapan di area halaman rumah kita, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mulai menggali tanah dengan menggunakan cangkul serta sekop, sampai kedalaman sekitar 1.7 meter (tetapi tidak melebihi air tanah) dan diameter antara 0.8 meter sampai dengan 1 meter. Pembuatan sumur resapan lokasinya berada minimal 1 meter dari pondasi rumah kita atau minimal berjarak 5 meter dari septic tank (sesuai SNI), dan berada dekat dengan talang pembuangan air.

Gambar 6. Menggali Tanah

2. Untuk memperkuat dinding tanah, masukkan buis beton. Karena tinggi buis beton yang banyak tersedia di pasaran sekitar 50 cm, maka kita sambungkan tiga buis beton sehingga buis beton tingginya mencapai 150 cm. Bagian sambungan antar buis beton kita ganjal dengan batu sekitar 10 cm.

Penggunaan buis beton kita gunakan jika lahan yang berada di halaman rumah kita lembek serta kualitas air di daerah kita terbilang kurang bagus.

Gambar 7. Penggunaan Buis Beton sebagai Dinding Sumur Resapan

Pada dinding sumur resapan menggunakan buis beton ini,  kita beri lubang-lubang kecil agar air menyerap ke dalam tanah.

Penggunaan buis beton sebagai dinding sumur resapan dapat diganti dengan batu bata, jika kondisi tanahnya tidak bagus, namun tidak lembek. Batu bata yang digunakan sebagai dinding sumur resapan adalah batu bata biasa (tebal 15 cm), bisa dibuat kedap air, atau diberi lubang-lubang kecil. Pengerjaan dinding sumur resapan menggunakan batu bata akan memakan waktu lebih lama dibandingkan menggunakan buis beton, karena harus memasang batu bata disekeliling dinding sumur resapan.

Gambar 8. Penggunaan Batu Bata sebagai Dinding Sumur Resapan

Kita juga bisa membuat sumur resapan tanpa menggunakan perkerasan atau lapisan pada dindingnya, jadi semuanya dari tanah. Hal ini bisa dilakukan jika kondisi tanahnya cukup bagus.

Gambar 9. Pembuatan Sumur Resapan tanpa Menggunakan Perkerasan/Lapisan

Namun untuk lebih amannya, disarankan dalam pembuatan sumur resapan ini, menggunakan buis beton atau batu bata sebagai dinding sumur resapan.

Bersambung ke Sumur Resapan (3)

Sumber Gambar :

Gambar 3 :

Seng Plastik                 :

http://www.mpoin.com/seng-plastik

Paralon                           :

http://anakit67.blogspot.com/2010/01/akses-internet-gratis.html

Buis Beton                    :

http://kusuma-bangunan.blogspot.com/2010/07/bis-beton.html

Plat Beton dan Tutup Plat Beton         :

http://miningundana07.wordpress.com/2010/04/15/sumur-resapan/

Batu Bata                 :

http://keziagabriellaagusta.blogspot.com/2009/08/bricks-when-something-small-slowly.html

Ijuk                     :

http://anastasiamerie.blogspot.com/

Geotekstil                :

http://geotextile.web.id/geotextile-woven-definisi-dan-fungsi.html

Batu Koral                :

http://desainlansekap.wordpress.com/2009/12/04/10-batu-alam-terfavorit/

Gambar 4 :

Meteran                  :

http://deadraivanka19.blogspot.com/

Meteran     Yamayo Stillon            :

http://brotherplaza.com/?p=430

Gambar 5 :

Cangkul                 :

http://www.faqs.org/photo-dict/phrase/3493/hoe.html

Sekop                     :

http://principledthoughts.wordpress.com/2010/09/28/just-get-out-of-the-way/

Gambar 6 :

http://www.zonaberita.com/nasional/peristiwa/gali-tanah-warga-kalubula-temukan-senpi-berusia-100-tahun.html/

Gambar 7, 8, dan 9 :

http://dwifatrinapputeri.ngeblogs.com/2010/01/04/cegah-banjir-dengan-sumur-resapan/

Sumur Resapan (1)

Postingan ini merupakan kumpulan dari berbagai informasi mengenai pembuatan sumur resapan yang berserakan di dunia maya, yang saya kumpulkan dan tulis ulang. Jikalau ada kesalahan dalam penulisan, baik itu mengenai teori dasar, perumusan, dll, silahkan isi dalam komentar, secepatnya saya akan cek dan perbaiki kalau memang benar salah. Selamat Membaca :D :

  • Sumur Resapan

Gambar 1. Banjir dan Kekeringan

Bencana banjir dan kekeringan yang seringkali melanda berbagai wilayah di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks. Salah satu faktor penyebab terjadinya kedua bencana tersebut adalah perubahan tata guna lahan, terutama perubahan pada kawasan yang seharusnya menjadi kawasan resapan air menjadi kawasan industri, pemukiman, pertanian, atau menjadikannya sebuah kawasan pertambangan.

Alih fungsi kawasan resapan air tersebut, membuat air hujan yang jatuh pada kawasan tersebut tidak masuk ke dalam tanah, akan tetapi langsung melimpas di permukaan tanah. Penambahan limpasan permukaan dari air hujan yang seharusnya dapat meresap ke dalam tanah, akan menambah beban air yang harus ditampung serta dialirkan dari sungai dan sistem drainase di kawasan tersebut. Hal tersebut akan membuat peluang terjadinya banjir akan semakin besar, karena biasanya sebuah sistem drainase dibuat dan direncanakan untuk menampung aliran air tanpa memperkirakan perubahan tata guna lahan yang terjadi di masa yang akan datang.

Efek lain yang timbul ketika banyaknya air hujan yang tidak masuk ke dalam tanah adalah semakin menipisnya cadangan air tanah ketika masuk musim kemarau. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya kekeringan pada kawasan tersebut ketika musim kemarau tiba.

Teknologi konservasi tanah berupa pembuatan sumur resapan merupakan solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi efek buruk yang ditimbulkan akibat dari semakin berkurangnya kawasan resapan air. Dengan teknologi sederhana ini kita bisa menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah ketika hujan, mengurangi air yang berlebih di permukaan sehingga bisa menghindari banjir, mencegah penurunan tanah, bahkan bisa menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah.

  • Prinsip Kerja Sumur Resapan

Prinsip kerja dari sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan ke dalam sebuah lubang atau sumur, agar air hujan dapat memiliki waktu tinggal di permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah. Di bawah tanah, air yang meresap ini akan merembes masuk ke dalam lapisan tanah yang disebut lapisan tidak jenuh, dimana pada berbagai jenis tanah, lapisan ini masih bisa menyerap air. Dari lapisan tersebut, air akan menembus kedalam permukaan tanah (water table), dimana dibawahnya ada air tanah (ground water), yang terperangkap dalam lapisan akuifer. Dengan demikian, masuknya air hujan ke dalam tanah akan membuat imbuhan air tanah akan menambah jumlah air tanah dalam lapisan akuifer.

Dengan prinsip kerja dari sumur resapan tersebut, maka jika kita hendak membuat sumur resapan pada area halaman rumah kita, kita akan menyalurkan air hujan yang turun di area rumah kita menuju sumur resapan, termasuk air hujan yang turun pada genting atap rumah yang nantinya mengalir menuju talang air. Dari talang, air kita salurkan ke sumur resapan dengan menggunakan pipa (biasanya menggunakan pipa paralon).

Sedangkan air hujan yang turun selain di area genteng atap rumah, dapat kita salurkan menuju sumur resapan dengan cara membuat semacam selokan atau got kecil di area rumah kita, yang dibuat dengan kemiringan tertentu, sehingga nantinya air yang masuk ke dalam selokan atau got tersebut dapat mengalir menuju sumur resapan.

Untuk membuang kelebihan air yang masuk kedalam sumur resapan, kita bisa membuat pipa pembuangan, yang nantinya berfungsi mengalirkan kelebihan air di dalam sumur resapan menuju saluran drainase/saluran pembuangan di dekat rumah kita.

Gambar 2. Ilustrasi Prinsip Kerja Sumur Resapan yang Dibuat di Area Halaman Rumah

  • Metodologi

Di bawah ini terdapat tabel yang dapat dijadikan bahan acuan mengenai volume sumur resapan pada kondisi tanah permeabilitas rendah (berdasarkan SK Gubernur No. 17 Tahun 1992) :

Tabel 1. Volume Sumur Resapan Pada Kondisi Tanah Permeabilitas Rendah (SK Gubernur No. 17 Tahun 1992)

Namun, jika ingin mengetahui bagaimana metode perhitungan pembangunan sumur resapan agar memberikan kontribusi yang maksimum, gunakan metode perhitungan sebagai berikut (Sunjoto, 1992) :

1. Menghitung debit air hujan yang masuk sebagai fungsi karakteristik luas atap bangunan dengan Metode Rasional (perhitungan debit air hujan yang masuk dari air hujan yang turun pada area genting rumah) :

Dengan metode yang sama, kita juga dapat memperkirakan debit air yang masuk pada sumur resapan dari air hujan yang turun pada area rumah selain dari atap rumah.

2. Menghitung kedalaman sumur optimum diformulakan sebagai berikut :

Sedangkan untuk menghitung volume air hujan yang meresap pada sumur resapan untuk perkarangan rumah (berdasarkan tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan perkarangan – SNI : 03 – 2453 – 2002),  adalah sebagai berikut :

Bersambung ke Sumur Resapan (2)

Sumber Gambar dan Tabel :

Gambar 1 (bagian gambar banjir) :

http://rizkarunia.wordpress.com/2010/05/06/mencegah-terjadinya-banjir/

Gambar 2 :

http://sumurresapan.blogspot.com/2008/10/rumah-bertalang-air.html

Tabel 1 :

http://miningundana07.wordpress.com/2010/04/15/sumur-resapan/

Inter News (08 Juli 2011)

Pekan ini boleh dibilang pekan peresmian buat Inter. Dimulai dari pengenalan Gian Piero Gasperini sebagai pembesut Inter untuk musim mendatang oleh manajemen Inter kepada publik. Disusul dengan resminya Inter mendatangkan pemain muda asal Argentina, Ricky Alvarez (Ricardo Gabriel Alvarez), dan pekan ini ditutup dengan launching seragam untuk training, jaket pre-match, dan terakhir jersey home untuk musim 2011/2012.

Gian Piero Gasperini - Inter New Coach / inter.it

Bertempat di press room Centro Sportivo Angelo Moratti di Appiano Gentile, pada tanggal 05 Juli 2011, Inter memperkenalkan pelatih anyar mereka, Gian Piero Gasperini ke publik. Didampingi Direktur Teknik Inter, Mario Branca, dan juga Wakil Direktur, Stefano Filucchi, Gasperini secara resmi berbicara sebagai pelatih Inter. Beberapa hal dia sampaikan ketika konferensi pers tersebut, antara lain kesannya terhadap pusat latihan Inter (Centro Sportivo Angelo Moratti) yang dapat memenuhi semua kebutuhan tim untuk dapat bekerja dengan kemampuan maksimal. Selain itu dia berbicara taktik kesukaannya, yaitu penerapan 3 pemain belakang, yang akan coba dia terapkan di Inter musim mendatang, walau katanya taktik tersebut bukanlah harga mati, taktik tersebut akan dia terapkan jika dia rasakan membuat hasil yang baik, seperti yang pernah ia tunjukkan bersama Genoa, dan jika tidak, maka ia punya opsi taktik yang lain yang akan digunakan. Gasperini pun berbicara mengenai sosok Mourinho yang menurutnya merupakan salah satu sosok penting dalam sejarah keberhasilan Inter meraih treble winner musim 2009/2010. Namun dia berkata tidak merasa terbebani dan akan berusaha menjadi bagian dari pelatih Inter yang mampu menghadirkan prestasi di Inter. Mengenai bursa transfer, Gasperini mengatakan bahwa skuad Inter yang sekarang sudah sangat kompetitif, sehingga siapa pun pemain yang jadi di boyong Inter pada bursa transfer musim ini, apakah itu Alvarez atau juga seorang Palacio, akan menambah kekuatan dari skuad Inter yang memang katanya sudah cukup kuat. Pertandingan kompetitif pertama yang akan dijalani Gasperini adalah perebuatan Piala Supercoppa Italiana melawan juara Liga Italia musim lalu, AC Milan, pada tanggal 6 Agustus 2011. Pertandingan tersebut akan menjadi impresi pertama Gasperini kepada seluruh fans Inter di seluruh dunia, apakah memberi impresi yang menawan atau malah buruk?, kita tunggu saja tanggal 6 Agustus mendatang.

Ricky Alvarez - Welcome to Inter! / inter.it

Berselang dua hari dari acara pengenalan pelatih anyar, pada tanggal 7 Juli 2011, Inter kedatangan pemain anyar mereka, yaitu Ricardo Gabriel Alvarez yang lebih dikenal dengan nama Ricky Alvarez. Pemain ini sebenarnya sejak awal oleh beberapa media erat dikaitkan dengan Arsenal, bahkan diantara media tersebut mengatakan bahwa Alvarez sudah resmi menjadi pemain Arsenal, akan tetapi mantan pemain Velez Sarsfield ini malah jadi bermain untuk Inter mulai musim depan. Alvarez di transfer dengan harga 11.75 juta Euro, dimana dengan harga tersebut Inter mendapatkan 90% kepemilikan Alvarez, dimana sisa 10%-nya akan dibayarkan Inter, jika Alvarez telah bermain sebanyak 80 kali bersama Inter, dan jika dia pindah klub sebelum dia bermain sebanyak 80 pertandingan bersama Inter, maka Inter tidak membayar sisa 10% kepemilikan Alvarez kepada Velez Sarsfield. Sebagai informasi tambahan, Inter sebelumnya juga berhasil mendatangkan Emiliano Viviano dan juga menuntaskan proses transfer Yuto Nagatomo dari Cesena, serta memperbaharui status kepemilikan bersama Joel Obi dengan Parma.

Emiliano Viviano - Inter New Goal Keeper / goal.com

Emiliano Viviano berhasil didapatkan sisa 50 persen kepemilikannya dari Bologna, dengan harga transfer rumornya sebesar 4.1 juta Euro pada lelang dengan cara menggunakan penawaran pada amplop tertutup. Yang menarik dari proses lelang kepemilikan Vivano ini adalah kesalahan administrasi yang dilakukan pihak Bologna, dimana Direktur Umum Bologna, Stefano Pedrelli, salah mengisi formulir pengajuan lelang sehingga penawaran Bologna yang seharusnya sebesar €4,7 juta harus terbagi dua. Dalam formulir akhir, Bologna dianggap mengajukan penawaran sebesar €2,35 juta sedangkan Inter Milan mengajukan angka €4,1 juta (sumber : Goal.com). Padahal kalau saja tidak terjadi kesalahan tersebut, Viviano harusnya menjadi Bologna karena tawaran Inter lebih rendah dibandingkan Bologna. Sedangkan untuk proses transfer Nagotomo, Inter menyertakan dua pemain muda mereka yaitu Luca Cardirola dan Luca Garritano, menjadi kepemilikan bersama dengan Cesena, selain uang tunai yang tidak disebutkan angkanya (namun diperkirakan sebesar 6 juta Euro).

 

Goodbye Matrix / marco-materazzi-guides.blogspot.com

Ada yang datang, ada juga yang pergi. Kali ini Inter harus melepaskan salah satu pemain militan milik mereka, Marco Materazzi, yang secara mengejutkan memutuskan sisa kontrak 1 tahun-nya dengan Inter. Namun sampai saat ini Matrix masih belum memutuskan klub mana yang akan dibelanya musim depan. Selain itu ada nama Victor Obinna yang musim kemarin dipinjamkan ke West Ham, pindah ke Lokomotiv Moscow, setelah Inter tidak memperpanjang kontraknya. Nama lain yang tidak diperpanjang kontraknya adalah David Suazo, yang hijrah ke Liga Portugal bersama Benfica. Pemain lain yang hengkang adalah Marco Andreolli yang pindah ke Chievo setelah Chievo membeli 50 persen sisa kepemilikan bersamanya dengan Inter, lalu ada nama Mattia Destro yang dijual juga sisa 50 persen kepemilikannya kepada Genoa, dimana menariknya lagi Genoa menjual lagi 50 persen kepemilikan dari Mattia Destro ke Siena. Sedangkan Rene Khrin masih berseragam Bologna musim depan dengan status masih kepemilikan bersama antara Inter dan Bologna. Nama terakhir (sampai tanggal 8 Juli 2011), yang tidak bermain untuk Inter musim depan adalah Vid Belec, yang dipinjamkan ke Crotone.

Pekan ini ditutup dengan sesuatu yang selalu dinanti tiap musimnya, apalagi kalau bukan jersey baru yang akan dikenakan para pemain Inter di musim mendatang. Hari ini (8 Juli 2011), secara resmi Inter bersama Nike memperkenalkan jersey home (kandang) Inter bersamaan dengan seragam training dan jaket pre-match-nya. Dikutip dari inter.it, seragam baru Inter ini dibuat dari bahan 100 persen polyester, dimana dari satu jersey Inter dibuat dari 14 buah plastik yang di daur ulang. Jersey home Inter ini juga lebih aerodinamis dibandingkan jersey musim kemarin yang ditandai dengan meningkatnya tingkat elastisitas jersey untuk musim ini sebesar 17%. Jersey ini pun akan semakin ringan dikenakan, karena beratnya lebih kecil 13% dibandingkan jersey musim lalu.

Dri Fit Technology / inter.it

Teknologi Dri-Fit dari Nike yang mengatur pengaturan suhu tubuh pemain selama pertandingan, akan membuat pemain tetap nyaman menggunakan jersey ini selama pertandingan berjalan.

Desainnya sendiri untuk jersey home musim mendatang cenderung mirip seperti jersey home Inter musim 1998/1999, namun pada jersey home musim mendatang terdapat dua kancing yang disematkan pada bagian kerahnya, sehingga nampak ada kesan agak “formal” namun cukup terlihat elegan. Jumlah strip warna biru hitam lebih banyak dibandingkan musim lalu. Selain itu terdapat tulisan Inter di bagian belakang jersey, tepat di bagian bawah kerahnya serta pada bagian kancingnya.

Berikut ini beberapa foto dari jersey yang akan digunakan Inter musim mendatang, yang diambil dari situs resmi Inter di www.inter.it :

Logo Nike / inter.it

Tulisan Inter di Belakang Jersey / inter.it

Logo Inter / inter.it

Jersey Home Inter / inter.it

Jersey Home Inter

Training Kit, Home Jersey, and Jacket / inter.it

Wesley Sneijder / inter.it

WS10 / inter.it

Giampaolo Pazzini / inter.it

Giampaolo Pazzini with Inter Training Kit / inter.it

WS10 & GP7 with Inter Home Jersey / inter.it

Dejan Stankovic with Inter New Jacket / inter.it

Internazionale Milan / inter.it

Orthorektifikasi (1)

Permasalahan yang akan selalu setia menemani data citra satelit, salah satunya adalah terjadinya sebuah distorsi pada data citra satelit tersebut akibat perbedaan sudut pengambilan antara sensor satelit dengan  permukaan bumi, selain itu juga dapat diakibatkan perbedaan variasi dari topografi dari wilayah yang sedang direkam datanya oleh satelit.

Proses orthorektifikasi merupakan salah satu solusi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan distorsi pada data citra satelit tersebut. Proses orthorektifikasi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan proses rektifikasi, yang sama-sama merupakan proses untuk memperbaiki masalah distorsi pada data citra satelit, akan tetapi proses orthorektifikasi dilakukan jika wilayah yang mengalami distorsi tersebut terjadi pada wilayah dengan topografi yang variatif (tidak datar), dan oleh karena itu kita membutuhkan data pendukung lain, terutama data Digital Elevation Model (DEM).

Digital Elevation Model (DEM)

DEM merupakan gambaran 3-D (tiga dimensi) permukaan daratan (yang dimaksud disini adalah permukaan daratan di bumi – walaupun terdapat data DEM untuk bulan atau asteroid). Salah satu jenis DEM yang sering digunakan dalam proses orhorektifikasi ini adalah DEM SRTM (Shuttle Radar Topography Mission).

example of DEM SRTM

DEM SRTM, merupakan DEM hasil kreasi dari NASA dan NGA, yang bekerja sama dengan badan antariksa dari Italia dan juga Jerman, dan banyak digunakan karena tersedia secara gratis di internet. Untuk wilayah Indonesia, kita dapat mendownload secara gratis DEM SRTM ini, salah satunya dari web gistutorial.net, dengan link download di bawah ini :

Link Download DEM SRTM

atau kita dapat melakukan download langsung dari software Global Mapper melalui fasilitas download online data.

DEM SRTM mempunyai dua level, yaitu level 1 dan level 3, dimana level 1 tersedia hanya untuk wilayah Amerika Serikat saja, dan untuk wilayah Indonesia terdapat pada level 3. Pada level 3 ini, DEM SRTM mempunyai ketelitan sebesar 90 meter (3 arc second).

Selain DEM SRTM, ada juga DEM dari Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer Global Digital Elevation Model (ASTER GDEM). Nama ASTER GDEM, masih kurang dikenal dibandingkan dengan DEM SRTM, walaupun sebenarnya tingkat ketelitian dari DEM jenis ini sudah mencapai 1.5 arc second atau sebesar 45 meter (bahkan ada yang sampai ketelitian mencapai 30 meter) dan meng-cover hampir 99% dari luas permukaan bumi. Data ASTER GDEM dapat kita dapatkan melalui software Global Mapper melalui fasilitas download online data (Global Mapper 12) atau dapat kita dapatkan di situs resmi mereka di www.gdem.aster.ersdac.or.jp

Gambar dibawah ini akan memperlihatkan perbandingan antara DEM SRTM dengan resolusi horizontal 90 meter dengan ASTER GDEM dengan resolusi horizontal 30 meter pada suatu wilayah.

DEM SRTM dengan resolusi horizontal 90 meter / freegeographytools.com

ASTER GDEM dengan resolusi horizontal 30 meter / freegeographytools.com

Pembahasan lebih lanjut mengenai orthorektifikasi akan saya tulis pada postingan berikutnya.

Tulisan ini dapat anda baca juga di sini :

http://citrasatelit.wordpress.com/2011/07/04/orthorektifikasi-1/

Sumber Gambar :

“Memaku” Peta

http://www.microimages.com/getstart/rpcortho.jpg

DEM SRTM :

http://www2.geog.ucl.ac.uk/~plewis/geog2021/classificationPractical/

Perbandingan antara DEM SRTM dengan ASTER GDEM :

http://freegeographytools.com/2010/free-30-meter-resolution-elevation-data-for-most-of-the-world-from-aster-gdem