Domba Garut Bag. I

Postingan kali ini ditulis oleh kawan saya yang bernama Gilang Ginanjar Natari, STP, yang merupakan lulusan Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Karya tulisnya berupa Analisis Pengubahan Iklim Mikro di Dalam Kandang Domba Garut dengan Metode Pengendalian Pasif (Studi kasus di UPTD-BPPTD Margawati, Kab. Garut) akan di share disini walau hanya sebatas tinjauan pustaka atau teori dasar, atau dalam penulisan skripsi atau tugas akhir berada pada bab II. Sehingga diharapkan dapat sebagai bahan literature bagi para mahasiswa yang juga sedang melakukan penelitian yang berhubungan dengan tulisannya.

Tulisannya sendiri disini tidak akan langsung diberikan semua akan tetapi bertahap. Untuk kali ini akan membahas mengenai domba garut dan sistem perkandangannya.

Semoga bermanfaat!

1. 1 Domba Garut

Domba Garut (Ovis aries) merupakan hewan ruminansia kecil, hewan pemamah biak, dan hewan mamalia yang menyusui anaknya (Cahyono, 1998). Domba Garut merupakan salah satu plasma nutfah khas di Indonesia dengan karakteristik fisik yang unik, yang tidak dimiliki oleh ras domba lain di dunia.

1. Domba

Menurut Ramadas (2007), domba Garut merupakan hasil persilangan domba Merino (Australia), domba Kaapstad atau Kaapche (Afrika), dan domba Jawa Ekor Gemuk (Indonesia) yang dirintis pada tahun 1854 oleh Adipati Limbangan di Kabupaten Garut. Pada Tahun 1926, domba Garut diindikasikan telah memiliki keseragaman karakteristik fisiologis, yang dicirikan dengan warna tubuh dominan hitam, putih, dan kombinasi hitam dan putih. Domba Garut betina umur 8 sampai 12 bulan memiliki tinggi tubuh minimal 62 cm dengan berat tubuh minimal 30 kg, sedangkan domba Garut jantan umur 12 sampai 18 bulan memiliki tinggi tubuh minimal 75 cm dengan berat tubuh minimal 60 kg. Ciri lain domba Garut yaitu pada pejantan memiliki tanduk, sedangkan betina umumnya tidak memiliki tanduk (Deptan, 2006).

Produk-produk yang dihasilkan dari peternakan domba Garut antara lain produk utama berupa daging merah sebagai sumber protein dan lemak hewani, kulit dan bulu (wool) sebagai bahan baku tekstil, serta feses sebagai limbah peternakan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik (pupuk kandang).

Khususnya bagi peternak di Jawa Barat, temperamen dan agresivitas domba Garut yang khas, dimanfaatkan semaksimal mungkin melalui lomba ketangkasan domba Garut yang dipadukan dengan pencak silat, untuk menguji kinerja fisik domba, kapasitas serta kapabilitas peternak, khususnya terhadap strategi budidaya dan pemeliharaan domba Garut yang optimal. Kondisi tersebut menjadikan domba Garut sebagai salah satu produk dalam upaya pemberagaman pariwisata, seni, dan budaya di Jawa Barat (Bank Indonesia, 2007).

1. Grafik

Gambar 2 Zona Termonetral

(sumber : Bartali, 1999)

Umumnya, ternak memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap beragam jenis pakan dan berbagai kondisi iklim. Namun, untuk mendukung produktivitas ternak yang optimal, terdapat karakteristik iklim terutama suhu bola kering yang dapat memengaruhi metabolisme ternak, dimana intensitas kalor laten dan kalor sensibel ternak dijadikan sebagai indikatornya. Suatu kondisi yang disebut zona termonetral yang dibatasi dengan suhu kritis minimum, suhu kritis maksimum, dan kisaran suhu termonetral, merupakan faktor-faktor yang memengaruhi sistem metabolisme ternak (Gambar 2). Zona termonetral merupakan kisaran suhu bola kering yang mempertemukan intensitas kalor laten dan kalor sensibel ternak yang rendah, yang menampilkan metabolisme ternak yang optimal (Bartali, 1999).

1.2 Sistem Perkandangan

Kandang merupakan salah satu media budidaya ternak, yang bertujuan untuk mengubah iklim mikro di dalam kandang yang efektif, dimana respon ternak terhadap fluktuasi iklim adalah rendah. Kandang juga berfungsi sebagai mediator untuk setiap kegiatan peternakan yang berhubungan dengan aktivitas ternak, menyediakan sejumlah kenyamanan bagi ternak, dan memberikan naungan serta perlindungan terhadap cekaman iklim. Menurut Cahyono (1998), secara fungsional, kandang bertujuan untuk :

  1. Melindungi ternak dari hewan pemangsa (predator) ;
  2. Melindungi ternak dari cekaman iklim terutama radiasi matahari yang tinggi, hujan deras, udara dingin, hembusan angin kencang, dan lain-lain ;
  3. Mencegah ternak tidak merusak tanaman lain disekitarnya ;
  4. Memfasilitasi ternak untuk tidur dan beristirahat dengan tenang ;
  5. Memfasilitasi ternak dalam kegiatan reproduksi ;
  6. Memudahkan pemeliharan sehari-hari, contohnya pemberian pakan, pengawasan terhadap penyakit, dan pemilihan atau seleksi ternak ;
  7. Meningkatkan sanitasi areal peternakan dan higienitas bagi ternak dengan menampung dan memisahkan ternak dari kotorannya, sehingga mudah dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk organik (pupuk kandang).

Menurut Jones dan Friday (2008), terdapat tiga fungsi dari sistem perkandangan berdasarkan tujuan struktural perancangan, yaitu :

  1. Mengendalikan kalor ;
  2. Mengendalikan kelembaban ; dan
  3. Mengendalikan bau.

Umumnya, kandang ternak di Indonesia diarahkan untuk mengefisienkan investasi peternakan, baik secara teknis maupun ekonomis. Kondisi tersebut salah satunya dicirikan dengan bentuk konstruksi kandang yang sederhana dan tersusun dari material kontruksi dengan beban finansial yang rendah, mudah diperoleh, dan memiliki tingkat ketersediaan yang tinggi. Saat ini, material kayu masih menjadi alternatif utama dalam pemilihan material, baik konstruksi permukiman, pertanian, peternakan, perkebunan, dan perindustrian skala kecil (Deptan, 2006).

Material kayu dengan massa jenis yang rendah, memberikan keuntungan lain, dimana tingkat kesulitan perancangan menjadi berkurang, sehingga dapat meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga kerja. Terdapat pertimbangan lain terhadap aplikasi bangunan kandang yang mengarah pada karakteristik iklim di Indonesia, yang identik dengan iklim tropis lembab, yang dicirikan dengan dua jenis musim. Kondisi tersebut perlu dijadikan pertimbangan terhadap aplikasi bangunan kandang untuk meningkatkan efektifitas peredaman cekaman iklim. Karakteristik iklim tropis lembab dicirikan dengan intensitas radiasi matahari, suhu, dan kelembaban udara yang tinggi. Menurut Soegijanto (1999), karakteristik iklim tropis lembab yang lebih spesifik dapat dinyatakan sebagai berikut :

  1. Suhu udara rata-rata maksimum antara 27 ºC dan 32 ºC, sedangkan suhu udara rata-rata minimum antara 20 ºC dan 23 ºC. Perubahan suhu udara diurnal mencapai 8 ºC, sedangkan perubahan suhu udara annualnya relatif kecil ;
  2. Kelembaban relatif rata-rata antara 75% dan 80% ;
  3. Curah hujan berkisar antara 1.000 dan 5.000 mm/tahun ;
  4. Umumnya, kondisi langit pada zona khatulistiwa memiliki intensitas awan yang tinggi dengan jumlah awan antara 60% dan 90% ;
  5. Luminasi langit untuk jenis langit yang seluruhnya tertutupi awan tipis mencapai lebih dari 7.000 kandela/m2, sedangkan untuk jenis langit yang seluruhnya tertutup awan tebal sekitar 850 kandela/m2 ;
  6. Radiasi matahari harian rata-rata mencapai 400 W/m2, dengan perbedaan setiap bulannya yang relatif kecil ;
  7. Kecepatan angin rata-rata adalah rendah, sekitar 2 sampai 4 m/s.

Kandang ternak di Indonesia umumnya menerapkan sistem ventilasi alami, yang mengandalkan proses fisik yang terjadi di lingkungan luar, khususnya melalui pergerakan angin dan perbedaan suhu, dengan tujuan untuk memenuhi sirkulasi dan distribusi udara di dalam kandang. Dengan menerapkan sistem ventilasi alami, maka resiko kecelakaan pada ternak menjadi berkurang (Yusop, 2006). Namun, pada kenyataannya, penerapan sistem ventilasi alami membutuhkan pertimbangan yang teliti dan selektif, terutama pada variabel-variabel iklim yang berhubungan dengan sistem ventilasi alami.

Fluktuasi iklim di sekitar kandang merupakan salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas sistem ventilasi alami. Fluktuasi iklim juga dapat menyebabkan cekaman panas saat siang hari dan cekaman dingin, mulai sore sampai menjelang pagi hari. Metode pengendalian iklim yang mengandalkan proses fisik di lingkungan luar, identik dengan metode pengendalian pasif. Metode pengendalian pasif tidak selalu dapat mengubah iklim yang diharapkan sepanjang hari, dikarenakan adanya keterbatasan sifat-sifat material konstruksi kandang, terutama sifat termofisika material (Soegijanto, 1999).

Tabel 1 Perbedaan Antara Kandang Pengendalian Aktif dan Pengendalian Pasif

No.

Parameter

Bentuk Pengendalian

Aktif

Pasif

1.

Prinsip pengendalian

Mekanik

Termofisik

2.

Tingkat kesulitan perancangan

Sedang à berat

Ringan

3.

Pengaruh lingkungan sekitar

Relatif rendah

Tinggi

4.

Karakteristik rekayasa iklim mikro

Konstan

Fluktuatif

5.

Pertambahan berat badan ternak

Ideal

Ideal

6.

Resiko kecelakaan

Sedang à tinggi

Ringan

7.

Kesesuaian terhadap iklim tropis

Sangat baik

Baik

8.

Konsumsi energi listrik

Sedang à tinggi

Sangat rendah

9.

Frekuensi pemeliharaan kandang

Sedang à tinggi

Sangat rendah

10.

Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan

Sedang à tinggi

Sangat rendah

11.

Beban investasi

Sedang à tinggi

Sangat rendah

12.

Aplikasi terhadap peternak Indonesia

Sulit

Mudah

Sumber : Soegijanto (1999)

Kandang dengan metode pengendalian iklim secara pasif, memberikan toleransi dengan berinteraksi melalui proses-proses fisika lingkungan, dalam upaya pengubahan iklim mikro di dalam kandang. Pengubahan iklim mikro di dalam bangunan sejalan dengan fluktuasi di lingkungan luar bangunan, dengan intensitas yang berbeda pada parameter iklim mikro yang spesifik. Fluktuasi iklim di lingkungan luar dapat memengaruhi iklim mikro di dalam kandang, serta sistem metabolisme ternak, dalam kaitannya terhadap konsep termonetral.

Menurut Cahyono (1998), klasifikasi kandang berdasarkan tipe atap ditujukan untuk pola sirkulasi udara di dalam kandang, sedangkan klasifikasi kandang berdasarkan tipe lantai ditujukan untuk efektivitas sanitasi dan higienitas kandang (Gambar 3). Klasifikasi kandang berdasarkan orientasi arah perancangan dinding (vertikal, horizontal, ataupun diagonal), pada dasarnya tidak memberikan perbedaaan nyata terhadap karakteristik pengubahan iklim mikro (Gambar 4). Namun, adanya rongga udara pada dinding dapat memengaruhi ventilasi di dalam kandang, dimana rongga udara dapat berfungsi sebagai ventilator, yang memungkinkan terjadinya sirkulasi udara melalui rongga tersebut (Bartali, 1999).

2. Kandang

Gambar 3  Klasifikasi Kandang Berdasarkan Tipe Atap dan Lantai

(sumber : Cahyono, 1998)

Menurut Jones dan Friday (2008), klasifikasi kandang berdasarkan sistem ventilasi alami, antara lain  : (Gambar 5)

  1. small housing unit dirancang dengan jumlah populasi ternak yang rendah ;
  2. open front building digunakan untuk ternak dengan spesifikasi berat tubuh di atas 300 kg ;
  3. modified open front building merupakan jenis kandang modifikasi yang menerapkan mekanisme buka tutup pada sistem ventilasi, untuk mengefektifkan kinerja sirkulasi dan distribusi udara di dalam kandang

Konsep tata ruang bangunan dalam kawasan peternakan memiliki peranan penting pada karakteristik pengubahan iklim mikro, khususnya pada kawasan peternakan yang didominasi oleh kandang pengendalian pasif (Jones dan Friday, 2008). Sebagai salah satu bagian dari penataan ruang kawasan peternakan, orientasi lokasi dan arah kandang dapat ditentukan melalui pendekatan pada karakteristik iklim. Konsep penataan ruang kawasan peternakan dapat didekati melalui orientasi kandang terhadap pergerakan angin dan orientasi kandang terhadap pergerakan matahari. Akses transportasi kawasan peternakan juga memberikan andil yang besar terhadap efisiensi waktu dan tenaga kerja selama kegiatan operasional peternakan.

Penataan kandang juga dapat dispesifikkan dengan pertimbangan pada produk utama peternakan (Bartali, 1999). Produk-produk ekonomis tinggi yang dihasilkan dari peternakan domba yaitu daging merah dan wool. Umumnya, peternakan domba di Indonesia dicirikan dengan produk daging merah sebagai produk utama, yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan wool, sehingga surplus finansial yang diperoleh relatif lebih besar.

Tabel 2 Karakteristik Suhu Bola Kering dan Kelembaban Relatif

Tiap-tiap Aktivitas Ternak (Umum)

No.

Jenis Aktivitas

Suhu (°C)

Kelembaban Relatif (%)

1.

Istirahat/pemberian pakan

10-17

60-80

2.

Perawatan ternak muda

20-22

60-80

3.

Perawatan ternak remaja

10-17

60-80

4.

Penggemukkan

10-17

60-80

5.

Penyapihan

18-22

60-80

Sumber : Bartali (1999)

Menurut Bartali (1999), setiap jenis aktivitas ternak memiliki karakteristik iklim yang spesifik, terutama pada suhu bola kering dan kelembaban relatif, dimana karakteristik iklim yang sesuai dapat meningkatkan produktivitas kegiatan operasional. Manfaat lain dari upaya sinkronisasi kegiatan operasional terhadap spesifikasi aktivitas ternak yang didasari oleh karakteristik iklim, juga dapat meningkatkan sanitasi dan higienitas kandang (Tabel 2).

Menurut Bartali (1999), aktivitas ternak yang dapat dispesifikkan yaitu :

  1. Aktivitas istirahat dan konsumsi terdiri dari makan dan minum ;
  2. Aktivitas perawatan anak ;
  3. Aktivitas penyapihan, yaitu pemisahan ternak muda dari induknya ;
  4. Aktivitas penggemukkan ;
  5. Aktivitas karantina untuk perawatan ternak yang sakit ;
  6. Aktivitas produksi untuk memperoleh daging maupun wool.

Contoh rancangan penataan ruang dengan produk utama daging merah, dan dispesifikkan pada aktivitas ternak, serta turut mempertimbangkan akses transportasi yang mendukung kinerja operasional, disajikan pada Gambar 6.

Konsep tata ruang bangunan dalam kawasan peternakan memiliki peranan penting pada karakteristik pengubahan iklim mikro, khususnya pada kawasan peternakan yang didominasi oleh kandang pengendalian pasif (Jones dan Friday, 2008). Sebagai salah satu bagian dari penataan ruang kawasan peternakan, orientasi lokasi dan arah kandang dapat ditentukan melalui pendekatan pada karakteristik iklim. Konsep penataan ruang kawasan peternakan dapat didekati melalui orientasi kandang terhadap pergerakan angin dan orientasi kandang terhadap pergerakan matahari. Akses transportasi kawasan peternakan juga memberikan andil yang besar terhadap efisiensi waktu dan tenaga kerja selama kegiatan operasional peternakan.

Penataan kandang juga dapat dispesifikkan dengan pertimbangan pada produk utama peternakan (Bartali, 1999). Produk-produk ekonomis tinggi yang dihasilkan dari peternakan domba yaitu daging merah dan wool. Umumnya, peternakan domba di Indonesia dicirikan dengan produk daging merah sebagai produk utama, yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan wool, sehingga surplus finansial yang diperoleh relatif lebih besar.

Tabel 2 Karakteristik Suhu Bola Kering dan Kelembaban Relatif

Tiap-tiap Aktivitas Ternak (Umum)

No.

Jenis Aktivitas

Suhu (°C)

Kelembaban Relatif (%)

1.

Istirahat/pemberian pakan

10-17

60-80

2.

Perawatan ternak muda

20-22

60-80

3.

Perawatan ternak remaja

10-17

60-80

4.

Penggemukkan

10-17

60-80

5.

Penyapihan

18-22

60-80

Sumber : Bartali (1999)

3. Bentuk

Gambar 4  Klasifikasi Konstruksi Dinding Kandang

(sumber : Bartali, 1999)

4. Bentuk 2

Gambar 5  Klasifikasi Kandang Berdasarkan Sistem Ventilasi Alami

(Sumber : Jones dan Friday, 2008)

Menurut Bartali (1999), aktivitas ternak yang dapat dispesifikkan yaitu :

  1. Aktivitas istirahat dan konsumsi terdiri dari makan dan minum ;
  2. Aktivitas perawatan anak ;
  3. Aktivitas penyapihan, yaitu pemisahan ternak muda dari induknya ;
  4. Aktivitas penggemukkan ;
  5. Aktivitas karantina untuk perawatan ternak yang sakit ;
  6. Aktivitas produksi untuk memperoleh daging maupun wool.

Contoh rancangan penataan ruang dengan produk utama daging merah, dan dispesifikkan pada aktivitas ternak, serta turut mempertimbangkan akses transportasi yang mendukung kinerja operasional, disajikan pada Gambar 6.

5. Bentuk 3

Gambar 6  Konsep Tata Ruang Kandang dengan Prioritas

Produk Utama Daging Merah (Red Meat)

(Sumber : Bartali, 1999)

16 thoughts on “Domba Garut Bag. I

  1. mudah2an bermanfaat bagi orang2 yg butuh informasi tentang ternak domba. kalo boleh tau di garut peternakan yg bisa dijadikan contoh yg bagus dari segala segi itu di daerah mana ya?

    • Ini jawaban dari Gilang (penulis postingan ini) :

      “Jadi sebetulnya banyak prototype konsep peternakan yang bagus. Cuman yang saya kaji hanya satu yaitu daerah Margawati (daerah ini merupakan daerah terbaik dibandingkan daerah lain yang telah saya observasi). Daerah ini dipilih karena paling mendekati konsep prototype peternakan ideal untuk iklim tropis di Indonesia, khususnya ternak domba garut.
      Definisi peternakan dalam hal lain salah satunya adalah budidaya-nya. Sesuai dengan tradisi budidaya ternak di Indonesia, kebanyakan ternak di budidayakan dalam kandang. Margawati sendiri punya beberapa kandang sesuai dengan peruntukannya.”

  2. klu mau melihat peternakan domba Garut,yang sudah berhasil dimana alamat di Garutnya?thanks….

  3. Om tanya, tentang pakan-nya bisa gak … ? atau komposisi yg dianjurkan …
    sukur sukur dapat kadar protein-nya …
    makasih …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s