GPR (2)

[picapp align=”none” wrap=”false” link=”term=gpr&iid=1986078″ src=”6/4/2/7/Archaeological_Survey_For_ce14.jpg?adImageId=9411479&imageId=1986078″ width=”500″ height=”303″ /]

Seperti yang telah saya tulis pada postingan sebelumnya, bahwa sinyal listrik yang berupa PRF (Pulse Repetition Frequency) yang dijalarkan oleh antenna transmitter (pengirim) nantinya akan direfleksikan oleh sebuah objek yang nantinya akan ditangkap oleh antenna receiver (penerima). Nah hasil dari refleksinya itu nantinya akan membentuk sebuah pola.

Salah satu contoh pola sinyal yang ditampilkan di LCD Easy Locator

Gambar diatas merupakan salah satu contoh pola yang dihasilkan oleh sinyal-sinyal hasil refleksi sebuah objek. Terlihat bahwa ada sebuah pola yang berbentuk seperti huruf “U” yang terbalik yang biasanya disebut pula dengan hiperbola. Pola seperti itu biasanya dapat kita curigai sebagai sebuah objek baik itu dapat berupa pipa, baik yang terbuat dari bahan metal ataupun pipa pvc, kabel, dan lain-lain, untuk lebih memastikannya dibutuhkan interpretasi lebih lanjut, melalui gabungan antara pengolahan software dan pengalaman di lapangan.

Lalu bagaimana jalan ceritanya sehingga dapat membentuk pola seperti huruf “U” terbalik tersebut?, jadi ketika kita melakukan pengukuran di lapangan dengan menggunakan GPR tersebut, maka gelombang elektromagnetik terus dijalarkan sepanjang daerah pengukuran. Karena penjalarannya dilakukan tanpa henti (kecuali sampai batas daerah pengukuran) maka sinyal-sinyal yang direfleksikan dan ditangkap oleh receiver akan sangat rapat, sehingga nantinya akan membuat sebuah pola (yang pernah belajar seismik pasti udah pada tau dan jago, kalo kata temen saya yang dari Geofisika, namanya sih trace).

Sinyal-sinyal yang membentuk sebuah pola

Sumber Gambar : Ground Penetrating Radar Workshop Notes – A. P. Annan

Dari gambar prinsip kerja GPR pada postingan sebelumnya, terlihat bahwa gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh anttena transmitter berbentuk seperti sebuah kerucut dengan sudut yang besar, sehingga gelombang tersebut dapat mengenai objek walau alat GPR-nya sendiri sebenarnya masih jauh dari objek tersebut. Nah, ketika alat GPR ini tepat berada diatas objek tersebut, maka akan semakin terlihat jelas. Lalu mengapa menjadi bentuknya seperti hiperbola alias melengkung karena ketika melakukan pengukuran, arah pergerakan GPR dilakukan secara tegak lurus terhadap suatu kawasan yang dijadikan pengukuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s