Domba Garut (Bagian 3)

Oke, postingan berikut merupakan “serial lanjutan” dari postingan mengenai Domba Garut. Selamat membaca.

2.3.1.10 Strategi Kenyamanan Termal

Menurut Bioclimate Design Central (2008), perputaran bumi terhadap matahari menghasilkan karakteristik iklim yang spesifik, yang berpengaruh terhadap produktivitas manusia, hewan, tanaman, maupun proses-proses industri. Strategi kenyamanan termal yang disesuaikan dengan karakteristik iklim dapat mengendalikan dampak negatif dari perubahan iklim (Gambar 11 dan Tabel 4).

Tabel 4 Strategi Kenyamanan Termal

2.3.2 Ventilasi

Ventilasi merupakan proses untuk mencatu udara bersih ke dalam ruangan, dengan intensitas yang sesuai kebutuhan. Ventilasi juga berfungsi untuk mengeluarkan udara kotor dari ruangan. Ventilasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan udara bagi manusia, hewan, tanaman, maupun proses-proses industri terhadap kesehatan ataupun kenyamanan termal (Badan Standarisasi Nasional, 2001). Ventilasi pada bangunan pertanian maupun peternakan digunakan untuk mengendalikan iklim mikro terutama kalor, kelembaban relatif, dan bau, serta untuk mengoptimalkan distribusi dan sirkulasi udara di dalam bangunan. Tujuan utama dari sistem ventilasi pada kandang, yaitu untuk mensirkulasikan udara bersih yang dibutuhkan ternak dan mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang.

Kebutuhan terhadap kesehatan ternak meliputi penyediaan oksigen sebagai bahan respirasi, pencegahan konsentrasi berlebihan dari gas CO2, asap dan gas-gas berbahaya, bakteri-bakteri, serta peniadaan bau dan aroma berlebihan yang dihasilkan dari domba Garut maupun dari konstruksi kandang. Kebutuhan kenyamanan termal meliputi pengeluaran kalor dari dalam kandang, membantu proses evaporasi konstruksi kandang dan respirasi ternak, dan juga upaya untuk mendinginkan konstruksi kandang dari penyerapan radiasi matahari yang berlebihan. Kebutuhan ventilasi untuk kesehatan dipengaruhi oleh volume ruangan per ternak, jumlah dan jenis ternak di dalam kandang (Soegijanto, 1999).

Sistem ventilasi pada bangunan kandang di Indonesia, umumnya mengaplikasikan sistem ventilasi alami, dimana fluktuasi iklim di dalam dan luar kandang dapat memengaruhi efektivitas kinerja sistem ventilasi. Karakteristik sistem ventilasi alami yang mudah, hemat energi, dan aplikatif, dapat menekan beban investasi dan tenaga kerja dibandingkan sistem ventilasi mekanik, sehingga sistem ventilasi alami relatif lebih sesuai terhadap karakteristik peternakan di Indonesia (Jones dan Friday, 2008). Umumnya, mekanisme ventilasi alami disebabkan oleh perbedaan tekanan udara di dalam dan luar kandang. Perbedaan tekanan udara dihasilkan dari pergerakan angin atau wind effect dan juga perbedaan suhu (udara dapat bergerak dari suhu yang tinggi menuju ke suhu yang rendah). Menurut http://www.wikipedia.org (2008b), pergerakan udara yang disebabkan oleh perbedaan suhu disebut efek cerobong (stack effect).

Menurut http://www.wikipedia.org (2008b), tekanan udara dari ventilasi dengan efek angin berkisar dari 1 sampai 35 Pa, sedangkan tekanan udara dari ventilasi dengan efek stack berkisar dari 0,3 sampai 3 Pa. Idealnya, kandang perlu menerapkan kedua jenis mekanisme tersebut untuk mendukung sirkulasi udara yang efektif. Sirkulasi udara melalui sistem ventilasi juga memengaruhi jumlah kalor dan massa uap air di dalam kandang, dimana fluktuasi kalor dan massa udara di dalam kandang memiliki korelasi yang variatif (Gambar 12).

Gambar 12 Pergerakan Udara di Dalam Kandang Berdasarkan Tipe Atap

(Sumber : Soegijanto, 1999)

Laju ventilasi dengan efek angin berbanding lurus dengan kecepatan angin yang dapat didekati melalui persamaan (http://www.arch.hku.hk, 2008) :

Laju ventilasi dengan efek stack berbanding lurus dengan perbedaan suhu antara dalam dan luar kandang. Menurut http://www.wikipedia.org (2008b), laju ventilasi dengan efek stack dapat didekati dengan persamaan :

Dua faktor yang memengaruhi laju ventilasi angin, antara lain arah dan intensitas kecepatan angin. Arah angin yang datang tegak lurus terhadap kandang memberikan laju ventilasi yang lebih besar dibandingkan angin yang datang secara diagonal. Namun, faktor arah angin dan intensitas kecepatan angin di kawasan peternakan, idealnya sulit diperkirakan dan sulit dikendalikan.

Menurut Smith (2008), untuk menentukan efektivitas sistem ventilasi alami di dalam kandang, perlu didukung data klimatologis yang aktual, terutama pada arah dan intensitas kecepatan angin, sebelum pelaksanaan kegiatan perancangan kandang. Perancangan sistem ventilasi alami memerlukan data tersebut dengan tujuan untuk memenuhi laju ventilasi minimal, agar sirkulasi udara di dalam kandang dapat tetap berlangsung. Di samping kebutuhan terhadap data klimatologis, juga perlu dipahami adanya faktor jarak kosong atau clearance antar kandang dapat memengaruhi efektivitas sistem ventilasi alami. Menurut Jones dan Friday (2008), jarak kosong minimal antar kandang dapat didekati dengan persamaan : (Gambar 13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s