Domba Garut (Bagian 4)

2.3.2.1 Kesetimbangan Massa Uap Air

Adanya perbedaan karakteristik iklim di dalam dan di luar kandang dapat menyebabkan perpindahan massa uap air. Perpindahan massa uap air terjadi melalui proses pembauran atau proses difusi dari lingkungan dengan konsentrasi uap air yang tinggi ke lingkungan dengan konsentrasi uap air yang lebih rendah (Holman, 1986). Perpindahan massa uap air dapat terjadi melalui ventilator dan komponen-komponen konstruksi kandang. Menurut Utomo (2007), untuk menentukan massa uap air yang masuk melalui ventilator dapat didekati dengan persamaan berikut  :

menurut Utomo (2007), untuk menentukan jumlah massa uap air yang masuk melalui komponen konstruksi kandang, yaitu dari komponen atap, dinding, dan lantai, dapat digunakan persamaan berikut :

2.3.2.1 Kalor Sensibel, Kalor Laten, dan Kalor Total

Sistem ventilasi berpengaruh terhadap pengendalian kalor di dalam ruangan. Proses pengendalian kalor dari sistem ventilasi terjadi melalui ventilasi dengan efek angin ataupun efek stack, dimana kalor yang diproduksi di dalam kandang merupakan produk perkalian antara laju ventilasi dan perbedaan suhu, yang dapat didekati dengan persamaan (Badan Standarisasi Nasional, 2001) :

Tampilan pertambahan berat badan ternak yang ideal ditunjukkan dengan laju metabolisme tubuh yang optimal. Salah satu indikatornya ditunjukkan dengan produksi kalor sensibel dan kalor laten, dimana fluktuasinya dipengaruhi oleh karakteristik iklim di dalam dan luar kandang.

Dalam konsep termonetral, laju metabolisme ideal ditunjukkan dengan adanya titik temu antara intensitas kalor sensibel dan kalor laten, yang merupakan respon ternak terhadap perubahan suhu bola kering. Fluktuasi kalor sensibel ternak berbanding terbalik terhadap peningkatan suhu bola kering, sedangkan fluktuasi kalor laten berbanding lurus terhadap peningkatan suhu bola kering. Performance pertambahan berat badan ideal ditunjukan saat titik temu antara kalor sensibel dan kalor laten berada pada intensitas yang rendah. Pada kondisi aktual, fenomena tersebut menyatakan beban kalor ternak terhadap fluktuasi iklim yang rendah. Menurut Badan Standarisasi Nasional (2001), pendugaan kalor laten di dalam kandang dapat didekati dengan persamaan :

Menurut Badan Standarisasi Nasional (2001), kalor total idealnya merupakan penjumlahan dari kalor sensibel dan kalor laten yang terakumulasi di dalam kandang. Namun, kalor total memiliki fungsi yang berbanding lurus terhadap perbedaan entalpi antara dua kondisi, sehingga pendugaan kalor total dapat didekati dengan persamaan :

2.4 Kesetimbangan Kalor

2.4.1 Heatloss dari Tubuh Domba Garut

Menurut Bartali (1999), domba merupakan hewan berdarah panas dan hewan homeotermis, dimana domba dapat mempertahankan suhu tubuh pada kondisi steady yang umumnya lebih tinggi dibandingkan suhu bola kering di dalam kandang. Domba menghasilkan kalor sensibel dan kalor laten yang merupakan respon dari perubahan iklim, terutama pada suhu bola kering, sebagai proses kesetimbangan kalor di dalam tubuh maupun di ruangan. Umumnya, respon ternak pada suhu bola kering yang tinggi adalah mengurangi kehilangan kalor sensibel yang dapat mencapai 3 sampai 4 W per kg berat tubuhnya (Esmay dan Dixon dalam Yani, 2007), dimana kalor sensibel dihasilkan dari metabolisme di dalam tubuh. Kehilangan kalor terjadi melalui empat cara, yaitu konduksi, konveksi, radiasi dan respirasi (Gambar 14).

a). Kehilangan kalor melalui konduksi

Kehilangan kalor konduksi dari tubuh ternak berkisar dari 10% sampai 15% yang terjadi akibat kontak langsung dengan batas-batas konstruksi kandang, terutama pada komponen lantai. Karakteristik termofisika material konstruksi dapat memengaruhi kehilangan kalor konduksi, dimana kehilangan kalor konduksi berbanding lurus terhadap konduktivitas termal dan berbanding terbalik terhadap tebal lapisan material konstruksi (Gambar 15). Menurut Jones dan Friday (2008), domba yang dibudidayakan di kandang berlantai semen maupun logam (metal), akan kehilangan kalor konduksi dua kali lebih besar dibandingkan kandang berlantai kayu atau plastik. Adanya komponen penyimpan kalor pada lantai, contohnya bedding dari sisa pakan, dapat menekan kehilangan kalor, khususnya untuk ternak muda, dimana absorpsi protein, lemak, dan karbohidrat di dalam tubuh ternak muda tersebut belum optimal (Gambar 14).

b). Kehilangan kalor melalui konveksi

Menurut Jones dan Friday (2008), kehilangan kalor konveksi dari tubuh ternak dapat mencapai 35%. Kehilangan kalor konveksi umumnya disebabkan oleh fenomena pergerakan udara pada sistem ventilasi, baik melalui efek angin ataupun efek stack, yang membawa kalor (panas) (Gambar 14).

c). Kehilangan kalor melalui radiasi

Menurut Jones dan Friday  (2008), kehilangan kalor radiasi dari tubuh ternak dapat mencapai 30%. Sebagian besar kalor radiasi yang hilang, disebabkan oleh emisivitas permukaan kulit ternak dan perbedaan suhu antara komponen konstruksi kandang dan ternak, melalui pancaran gelombang panas (Gambar 14).

d). Kehilangan kalor melalui respirasi

Menurut Jones dan Friday (2008), kehilangan kalor respirasi terjadi pada kulit dan saluran pernafasan yang mencapai 15% sampai 20% pada kisaran nyaman, dan 40% sampai 50%, saat ternak mengalami stres panas (Gambar 14).

Menurut Jones dan Friday (2008), fluktuasi suhu bola kering menyebabkan stres panas pada ternak. Tingkat stres panas pada ternak disebabkan oleh kehilangan kalor melebihi batas toleransi. Menurut Finochiario dkk. (2005), stres panas dapat dinyatakan dengan indeks suhu kelembaban (THI) (Gambar 16).

Adanya beban pemanasan berlebihan diindikasikan dengan perilaku ternak berupa penurunan nafsu makan, sering bergerumul (berkelompok), dan mengerutkan tubuh, untuk mengurangi bidang kontak dengan lantai. Menurut Yani (2007), adanya beban pendinginan pada ternak diindikasikan dengan :

  1. Dry matter intake dan nafsu makan menurun, mulai dari 6% sampai 30% ;
  2. Suhu tubuh rectal meningkat, umumnya melebihi 39,4 ºC ;
  3. Pada betina, produksi air susu menurun, mulai dari 15% sampai 20% ;
  4. Frekuensi dan kehilangan kalor respirasi lebih dari 100 nafas per menit ;
  5. Penurunan konsentrasi hormon (tiroksin, prolaktin, glukosa, protein, dll.) ;
  6. Peningkatan denyut jantung dan suhu tubuh;
  7. Penurunan keberhasilan reproduksi antara 40% sampai 50% ;
  8. Peningkatan resiko kematian akibat dehidrasi ;
  9. Sering meregangkan tubuh dan meregangkan bulu.

2.4.1 Mekanisme Kesetimbangan Kalor

Kesetimbangan kalor terjadi akibat perpindahan kalor secara konduksi, konveksi, radiasi, evaporasi dari komponen konstruksi, dan respirasi dari ternak. Setiap komponen yang terintegrasi dalam kandang dapat menerima maupun menghasilkan kalor ke dalam dan ke luar kandang, dimana intensitasnya selalu berfluktuasi sepanjang hari. Apabila kesetimbangan kalor bernilai positif, maka kandang akan menerima kalor. Apabila kesetimbangan kalor bernilai negatif, maka kandang akan mengeluarkan kalor ke lingkungan. Menurut Soegijanto (1999), kesetimbangan kalor dapat didekati dengan persamaan : (Gambar 17)

Tata ruang kandang yang berorientasi pada pergerakan matahari dapat meminimalkan penyerapan radiasi matahari yang menyebabkan akumulasi kalor di dalam kandang. Radiasi matahari yang diterima oleh kandang dengan orientasi yang membujur dari timur ke barat lebih kecil dibandingkan kandang yang membujur dari utara ke selatan. Apabila perancangan kandang yang membujur dari timur ke barat tidak dapat dilakukan, maka diperlukan perlakuan lain yang diarahkan pada perancangan sistem ventilasi, alat peneduh, dan sebagainya.

Menurut Soegijanto (1999), Setiap komponen konstruksi memiliki tingkat penyerapan radiasi yang berbeda. Urutan komponen yang menyerap radiasi matahari mulai yang paling tinggi sampai yang paling rendah yaitu : (Gambar 18)

  1. Komponen atap (bidang horizontal ataupun diagonal) ;
  2. Komponen dinding barat dan timur (bidang vertikal) ;
  3. Komponen dinding utara dan selatan (bidang vertikal).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s