Palermo 1-2 Inter [Nonton Bareng ICI Pusat]

[picapp align=”center” wrap=”false” link=”term=Eto’o&iid=9476834″ src=”http://view3.picapp.com/pictures.photo/image/9476834/soccer-inter-milan/soccer-inter-milan.jpg?size=500&imageId=9476834″ width=”500″ height=”332″ /]

Samuel Eto’o

Akhirnya hari minggu ini, saya berkesempatan untuk pertama kalinya nonton bareng pertandingan Inter yang diselenggarain sama pihak Inter Club Indonesia (ICI) Pusat, sekalian masukin formulir pendaftaran buat jadi member di sana. Bertempat di Ricks Cafe – Gedung Hero Lt. 4, Pancoran, acara ini diadain, dengan harga masuk 15 ribu, dimana karcisnya bisa dituker sama minuman (Coca-Cola, es the, atau air tawar) pas rehat babak pertama.

Pas awal masuk ke cafe ini, saya agak sedikit kurang nyaman, karena untuk pertama kalinya saya masuk cafe yang juga ada tempat bilyar-nya, tapi untungnya tempat ini gak seburuk yang selalu saya pikirkan mengenai sebuah tempat bilyar. Cewek dengan pakaian seronok dan dandanan menor, yang seolah-olah memberikan kesan lain terhadap keberadaan dan fungsi mereka di tempat bilyar, hilang seketika ketika melihat mereka berpakaian cukup sopan, dengan kaos wangky (walau agak ketat) yang dibalut celana jeans dan sepatu kats, memberikan kesan cukup sporty bagi para pegawai cafe ini.

Acaranya sendiri sebenarnya berasa kurang meriah, mengingat tidak terlalu banyak member ICI yang ikut acara nonton bareng ini, dan panitianya sendiri seperti mengemas acara ini hanya untuk nonton bareng aja, tidak ada hal yang spesial malam itu, kecuali tentunya kemenangan Inter itu sendiri. Padahal banyak yang bisa dieksplorasi dari kegiatan tersebut, seperti pengenalan member baru yang malam itu ada sekitar 4 atau 5 orang, termasuk saya sendiri, serta pengenalan panitia itu sendiri terhadap para member baru, sehingga memberikan kesan yang luar biasa bagi para member baru, bahwa mereka telah menjadi anggota keluarga besar ICI Pusat. Kalo alasannya bahwa waktunya sangat sempit, mengingat setelah pertandingan Inter ini ada acara nonton bareng lain antara Chelsea lawan Blackpool, itu juga bisa disiasati dengan berkumpul dulu di pelataran parkir Gedung Hero yang cukup luas, walau mungkin waktunya tidak lama, tapi setidaknya ada penghargaan kepada para member baru. Selain itu, konsentrasi nonton pun agak sedikit terganggu, karena di samping layar utama, terdapat layar berukuran lebih kecil yang menyiarkan pertandingan antara MU lawan Liverpool, sehingga para internisti nggak terlalu fokus menonton pertandingan Inter lawan Palermo itu sendiri.

­

[picapp align=”center” wrap=”false” link=”term=Milito&iid=7650508″ src=”http://view.picapp.com/pictures.photo/image/7650508/sports-news-january-2010/sports-news-january-2010.jpg?size=500&imageId=7650508″ width=”380″ height=”506″ /]

Diego Milito

Pertandingan Inter sendiri malam itu berjalan cukup menarik, di awal-awal Inter berhasil mendominasi jalannya pertandingan dan mendapatkan beberapa peluang, terutama satu peluang gol dari Diego Milito yang sudah berhadapan dengan kiper Palermo, Salvatore Sirigu, namun gagal dikonversi menjadi gol. Setelah itu, Inter bermain seperti tanpa koordinasi terutama antara gelandang bertahan dengan para pemain belakang, akibatnya beberapa kali para pemain Palermo dengan mudahnya menembus pertahanan Inter. Dan puncaknya Ilicic berhasil membobol gawang Inter di menit ke 28, setelah memanfaatkan tendangan muntahan dari tendangan Pastore, yang malam itu bermain cukup gemilang bagi Palermo.

Babak kedua sebenarnya juga Inter tidak terlalu banyak perubahan dalam hal permainan, Inter tetap mendominasi jalannya pertandingan namun justru Palermo lah yang banyak mendapatkan peluang gol melalui serangan baliknya melalui sektor pertahanan sebelah kanan Inter yang malam itu dikawal Cristian Chivu. Sektor kanan pertahanan Inter malam itu saya lihat merupakan sektor pertahanan terburuk, dimana dengan mudahnya para pemain Palermo mengacak-acak pertahanan Inter lewat sektor tersebut.

[picapp align=”center” wrap=”false” link=”term=Chivu&iid=9476816″ src=”http://view4.picapp.com/pictures.photo/image/9476816/soccer-inter-milan/soccer-inter-milan.jpg?size=500&imageId=9476816″ width=”500″ height=”333″ /]

Cristian Chivu

Entah apakah memang Christian Chivu yang memang sedang bermain buruk, sehingga para pemain Palermo dengan mudahnya masuk lewat sektor tersebut, atau memang para gelandang Inter utamanya gelandang bertahan Inter yang selalu telat turun membantu pertahanan Inter. Saya melihat perbedaan taktik yang digunakan Inter di bawah arahan Rafa dengan Mourinho menjadi penyebab. Para pemain Inter seperti mencoba beradaptasi dengan taktik dan keinginan Rafael Benitez, yang lebih mengedepankan possession football dan taktik menyerangnya yang menggunakan 3 penyerang sekaligus, ditambah dengan seorang playmaker di belakang striker yang dijadikan target man. Dari segi permainan memang Inter terlihat tidak lagi membosankan dan bahkan banyak mencetak peluang gol, namun PR besarnya adalah bagaimana agar pertahanan Inter tidak kocar-kacir ketika serangan balik tim lawan dilancarkan. Malam ini baru Palermo, pertahanan Inter sudah kocar-kacir ketika diserang balik, bagaimana lawan Milan, Juve, atau Roma, alamat bahaya sekali jika lubang ini masih belum bisa diperbaiki. Mungkin salah satu solusinya adalah kembali memainkan dua gelandang bertahan. Satu gelandang bertahan yang memang tidak pernah terpancing untuk ikut menyerang, hal itu terletak pada diri Esteban Cambiasso, serta satu gelandang bertahan bertenaga kuda yang bisa maju mundur, membantu penyerangan Inter, dan secepatnya bisa balik ke posnya ketika tim lawan melancarkan serangan balik, di mana posisi tersebut bisa diperankan Thiago Motta atau juga Sulley Muntari. Dan mungkin formasinya sendiri bisa diubah menjadi 4-3-1-2, dimana 3 gelandang yang ada di garis tengah, merupakan para pekerja keras yang bisa menjaga keseimbangan antara bertahan dan menyerang. Sedangkan satu pemain di belakang pemain depan alias playmaker mutlak menjadi milik Wesley Sneijder. Serta dua pemain depan Inter menjadi milik Milito dan Eto’o, dimana pada pertandingan babak pertama antara Inter lawan Palermo, Eto’o ditempatkan melebar di sebelah kiri penyerangan, di mana menurut saya posisi tersebut kurang ideal bagi seorang Eto’o yang bertipe finisher, yang lebih cocok ditempatkan sebagai striker tunggal seperti yang ia perankan waktu bermain di Barcelona, atau berduet dengan penyerang lainnya yang bisa melayaninya. Dan hal itu terlihat pas babak kedua, dimana ketika Eto’o bermain lebih ke dalam, dia bisa menceploskan dua gol kemenangan bagi Inter. Dan saatnya pula Inter tidak menggantungkan diri lagi pada sosok Milito untuk memecah kebuntuan, di mana pada pertandingan tersebut, Milito benar-benar kehilangan naluri mencetak golnya, tidak seperti yang ia perlihatkan seperti musim lalu.

Oke deh segitu aja field report saya ikut nonton bareng pertandingan ini. Semoga tidak bosan membacanya, hehehe ……😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s