Ronaldo Luis Nazario da Lima (2)

This slideshow requires JavaScript.

Selamat Jalan, Sayonara, Adios, Ciao, Au Revoir, Auf Wiedersehen, Elalleqa, La revedere, zai jian, merupakan sebagian dari kata-kata perpisahan yang diucapkan para fans Ronaldo di seluruh dunia, termasuk saya, atas keputusannya gantung sepatu secara resmi dari dunia sepakbola. Sebenarnya Ronaldo sendiri telah mengucapkan kata perpisahan dari dunia sepakbola per tanggal 14 Februari 2011, gara-gara cedera lutut kambuhan yang tidak kunjung sembuh ditambah dengan masalah dengan berat badannya. Berkenaan dengan pengunduran dirinya tersebut, tanggal 7 Juni 2011 kemarin, CBF (PSSI-nya Brazil) memberikan penghargaan kepada Ronaldo, berupa pertandingan perpisahan antara Brazil lawan Rumania, yang menandakan akhir perjalanan sepakbola Ronaldo di tim nasional Brazil dan juga dunia sepakbola.

Pada pertandingan tersebut, Ronaldo bermain di menit ke 31, menggantikan Fred yang merupakan pencetak gol tunggal kemenangan Brazil. Ronaldo bermain selama 15 menit terakhir di babak pertama, sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir setelah babak pertama usai.

Maafkan saya, ada tiga peluang mencetak gol tapi saya gagal. Tapi itu hanya sebagian kecil balasan dibandingkan dengan dukungan kalian

Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Untuk menerima saya apa adanya. Kalian menangis ketika saya menangis dan tersenyum ketika saya tersenyum. Fans yang hadir di stadion ini mewakili seluruh masyarakat Brasil. Sampai jumpa lagi, kali ini di luar lapangan

Pidato terakhir Ronaldo di depan para pendukungnya dan juga tim nasional Brazil di stadion Municipal Paulo Machado de Carvalho, Sao Paulo (sumber :http://www.goal.com)

credit to kaskus.us

Flashback ke perjalanan karir main bolanya, Ronaldo terlahir 34 tahun yang lalu dari keluarga miskin, yang membuatnya bahkan tidak mampu membeli sepatu bola. Ronaldo kecil bermain bola bersama teman-temannya di lingkungan sekitar rumahnya, di Bento Ribeiro – Rio de Janeiro. Bakat besarnya di sepakbola jalanan tercium oleh Jairzinho yang membawanya ke klub Cruzeiro di usia 16 tahun. Di musim pertama dan terakhirnya di Cruzeiro, Ronaldo berhasil mencetak 12 gol dari 14 penampilan, dan mengantarkan Cruzeiro memenangkan Copa do Brasil. Penampilan cemerlangnya tersebut, membawa dia ke gelaran Piala Dunia 1994 di Ameria Serikat. Namun pada gelaran tersebut, Ronaldo tidak bermain sama sekali, kalah bersaing dengan duet Romario dan Bebeto. Meski menjadi cadangan di tim nasional Brazil kala itu, Ronaldo tetap diminati oleh klub asal Belanda yaitu PSV Eindhoven.

Ronaldo in PSV Eindhoven - credit to mais.uol.com.br

Di Eindhoven, Ronaldo memulai petualangannya di kompetisi Eropa, dan hebatnya walau baru pertama kali mencicipi kompetisi di Eropa, dia berhasil menjadi top scorer Liga Belanda dengan mencetak 30 gol. Pada musim kedua bersama PSV, tanda-tanda bahwa Ronaldo akan sering berurusan dengan cedera lututnya mulai tampak. Di musim keduanya itu, Ronaldo hanya bermain di 13 pertandingan liga, gara-gara cedera lututnya tersebut, namun hebatnya dia tetap mampu mencetak 12 gol dari 13 penampilannya tersebut. Selama 2 musim bersama PSV, dia mencetak 42 gol dari 46 penampilannya di berbagai kompetisi, dan berhasil membawa PSV juara Piala Belanda tahun 1995.

Ronaldo in Barcelona - credit to iffhs.de

Dua musim di PSV, dia akhirnya pindah ke Barcelona dengan nilai lebih dari 2 kali lipat ketika ia pindah dari Cruzeiro ke PSV. Dia di transfer 12 juta poundsterling oleh Barcelona, dimana pada waktu itu ia sebenarnya target kedua, setelah target utama yaitu Alan Shearer gagal didapatkan dari Blackburn Rovers. Di Barcelona pula saya mulai tahu mengenai Ronaldo, karena waktu itu Liga Spanyol kebetulan ditayangin sama ANTV. Sampai-sampai pas jaman masih SD tersebut, saya langganan tabloid Bola (dan terkadang juga tabloid GO!), hanya karena ingin tahu kabar seputar Ronaldo dan Barcelona (pada waktu itu, kalo nggak salah Bola masih terbit setiap seminggu sekali yaitu pas hari Jum’at). Dan gara-gara Ronaldo juga, saya mulai suka bergadang menonton pertandingan-pertandingan Barcelona yang memang biasanya ditayangin dini hari. Dan menurut saya pula, puncak permainan Ronaldo, memang hanya ketika ia berada di Barcelona. Gaya bermain Ronaldo di Barcelona memang luar biasa, dengan mengandalkan teknik olah bola dan speed yang kenceng, dia bisa menyihir saya dan jutaan penggemar bola waktu itu. Sampai saat ini gaya bermain Ronaldo tidak ada yang bisa menandingi, termasuk Lionel Messi sekalipun (itu menurut saya loh, dan yang agak mirip-mirip dengan gaya bermain Ronaldo, mungkin hanya Maradona). Yang menjadi spesial dari skill seorang Ronaldo adalah kemampuannya mengecoh beberapa pemain lawan sekaligus dalam ruang yang sempit. Kemampuannya tersebut bahkan pernah diutarakan beberapa pemain Inter, ketika dia bermain untuk Inter. Cuman sayang, di Barcelona di cuman semusim, gara-garanya waktu itu Barcelona tidak memberikan kepastian kontrak bagi Ronaldo, sehingga membuat Ronaldo tidak bahagia dan ingin pergi. Walau cuman semusim di Barca, Ronaldo berhasil menyumbangkan total 47 gol dari total 49 penampilannya di semua ajang yang diikuti oleh Barca, dimana di La Liga sendiri dia menjadi top scorer dengan 34 gol dari 37 penampilan. Selama semusim itu pula, Ronaldo berhasil memberikan trofi Piala Winner (waktu itu masih ada Piala Winner), Copa Del Rey (Piala Spanyol), serta Supercopa de Espana (Piala Super Spanyol). Musim itu juga, Ronaldo meraih penghargaan pribadi yang prestisius berupa gelar pemain terbaik dunia dari FIFA, pada usia masih 20 tahun.

Ronaldo in Inter - credit to news.bbc.co.uk

Inter Milan berhasil membajak Ronaldo dari Barcelona, memanfaatkan situasi dimana Ronaldo waktu itu kurang bahagia akibat ketidakpasitan kontrak dari Barcelona. Ditebus dengan angka 19 juta poundsterling, membuatnya menjadi pemain termahal di dunia waktu itu. Pindahnya Ronaldo, membuat saya juga mulai pindah tayangan bola, dari ANTV menjadi penonton setia RCTI dengan Liga Italia-nya. Nah, Liga Italia ini agak mending, karena ada jadwal siarannya yang jam 9 malam, bahkan kadang-kadang jam 8 malam, sehingga tidak terlalu sering buat bergadang untuk nonton c Ronaldo. Ronaldo sendiri bersinar hanya pada musim pertamanya bersama Inter, sisanya dia banyak bergelut dengan cedera lutut-nya. Di musim pertamanya dia berhasil membawa Inter juara Piala UEFA dengan mencetak salah satu gol ke gawang Lazio untuk membawa Inter menang 3-0, pada All Italian Final Piala UEFA. Gol itu benar-benar saya ingat, karena tercipta cukup cantik, dimana Ronaldo berhasil mengecoh penjaga gawang Lazio saat itu, sebelum menceploskannya ke gawang Lazio. Di musim itu pula, dia berhasil mempertahankan gelar pemain terbaik dunia versi FIFA musim sebelumnya. Penampilannya mulai menurun semenjak final Piala Dunia 1998 di Prancis, dimana sampai saat ini masih menjadi misteri penampilan Ronaldo yang di bawah form pada final Piala Dunia tersebut. Musim-musim selanjutnya di Inter, dia banyak bergelut dengan cedera lututnya, dan waktu itu rasanya saya hambar banget nonton Inter yang kebanyakan main tanpa diperkuat Ronaldo. Salah satu comeback-nya yang saya ingat berakhir tragis, adalah penampilannya melawan Lazio di ajang Copa Italia. Waktu itu udah seneng banget liat Ronaldo kembali turun walaupun hanya datang dari bangku cadangan, eh ternyata dia hanya maen selama kurang lebih 7 menit. Awalnya saya kira pemain Lazio kejam banget, nekel pemain yang baru sembuh dari cedera, karena sebelum dia terkapar di lapangan, dia di jaga sama dua orang pemain belakang Lazio. Ternyata pas di tayangan ulang terlihat bahwa Ronaldo terjatuh sendiri, sebelum akhirnya teriak kesakitan sambil memegang lutut-nya. Sedangkan comeback dia yang berakhir manis adalah ketika dia berhasil mempersembahkan gelar Piala Dunia ke-5 bagi Brazil pada tahun 2002. Di ajang itu pula Ronaldo berhasil keluar sebagai top scorer dengan 8 gol dan meraih Silver Ball (runnerup pemain terbaik Piala Dunia dibelakang Oliver Kahn). Penampilan cemerlang Ronaldo di Piala Dunia 2002 membawa asa saya dan jutaan penggemar Inter di seluruh dunia, bahwa dia bisa mengantarkan Inter kembali menjadi scudetto, setelah terakhir didapat musim 1988/1989. Tapi apa lacur, ternyata Ronaldo malah pindah ke Real Madrid dengan tebusan 39 juta Euro. Disana saya yang sudah menjadi fans Inter, benar-benar nggak habis pikir dengan keputusan Ronaldo, apalagi Moratti sudah menjadikannya anak emas di Inter, dimana Ronaldo diperlakukan sangat baik oleh pihak klub, bahkan ketika ia terpuruk dengan cedera lutut yang terus menghantamnya. Tidak ada yang tahu pasti alasan pasti kenapa dia berlabuh ke Madrid, namun banyak pihak yang menganggap Ronaldo cukup frustasi dengan cedera lutut dan kegagalan Inter selama ini menjuarai Liga Italia, apalagi waktu itu Ronaldo sama sekali belum pernah menjuarai kompetisi liga di Eropa. Ronaldo sendiri di Inter, total mencetak 59 gol dari 99 penampilannya.

Ronaldo in Real Madrid

Walau Ronaldo telah beranjak dari Inter, namun saya tetap fans Inter, meski saat itu saya juga mulai mendukung Madrid untuk juara Liga Spanyol. Di Madrid pula, asa Ronaldo untuk menjadi juara liga domestik terpenuhi. Di musim pertamanya, Ronaldo berhasil membawa Madrid juara Liga Spanyol untuk yang ke 29 dan mencetak 23 gol dari 31 penampilannya di La Liga. Di musim itu pula dia berhasil membawa Madrid juara Piala Interkontinental dan juara Piala Super Spanyol di awal musim 2003/2004. Musim-musim berikutnya, Ronaldo gagal membawa Madrid berprestasi, walaupun Ronaldo pernah menjadi top scorer La Liga di musim keduanya dengan 24 gol. Musim 2007/2008 dia akhirnya hijrah ke AC Milan dengan transfer 7.5 juta Euro, akibat posisinya yang mulai sering jadi cadangan di Madrid, lagi-lagi karena faktor cedera dan tambahan faktor lain yaitu kelebihan berat badan. Total di Madrid dia mencetak 177 gol di semua ajang kompetisi yang diikuti Madrid.

Ronaldo in Milan credit to worldspor.tk

Keputusan Ronaldo ke Milan, memang disesalkan banyak fans Ronaldo dan juga Inter, termasuk saya sendiri. Walaupun demikian, pada musim itu saya mulai senang nonton Milan dengan Ronaldo-nya walau berharap Milan tidak juara Liga Italia. Pertandingan emosional tentu saja ketika Milan ketemu Inter di ajang Liga Italia, apalagi waktu itu dia cetak gol tunggal Milan ke gawang Inter, untuk membawa Milan unggul 1-0, sebelum akhirnya kalah 2-1 oleh Inter di akhir pertandingan.

Ronaldo in Corinthians credit to southamericanfutbol.com

Satu setengah musim di Milan, Ronaldo akhirnya pulang kampung ke Brazil. Kali ini dia memperkuat klub Corinthians, setelah Milan tidak memperpanjang kontraknya akibat cedera lututnya yang semakin parah. Yang menarik adalah sebelumnya Ronaldo dikabarkan akan membela klub favoritnya semenjak kecil yaitu Flamengo, namun justru pada detik-detik terakhir ia justru berlabuh ke Corinthians, sehingga banyak fans Ronaldo yang juga fans dari Flamengo kecewa besar. Pada musim perdananya itu pula, Ronaldo berhasil membawa Corinthians juara Liga Paulista dengan mencetak 10 gol dari 14 pertandingan. Kontribusi Ronaldo yang cukup signifikan untuk Corinthians membuatnya diberikan perpanjangan kontrak sampai musim 2010/2011, dimana rencananya musim 2010/2011 adalah musim terakhirnya di dunia sepakbola. Namun apa daya sebelum musim 2010/2011 berakhir , Ronaldo sudah memutuskan pensiun, tepatnya 14 Februari 2011, akibat cedera dan masalah kelebihan berat badan yang selama ini menjadi problem utamanya.

Dari perjalanan karir Ronaldo tersebut, ada beberapa pon yang menarik, antara lain :

1. Kalau dicermati, Ronaldo benar-benar menuai sukses di sebuah klub pada musim pertama dia berada di klub tersebut;

2. Ronaldo mengawali dan mengakhiri karir sepakbolanya di klub sepakbola yang ada di Brazil

3. Andai saja sebelum ke Corinthians, Ronaldo terlebih dahulu bermain di Liga Belanda, maka pola karir Ronaldo akan seperti ini : Liga Brazil – Liga Belanda – Liga Spanyol – Liga Italia – Liga Spanyol – Liga Italia – Liga Belanda – Liga Brazil

4. Ronaldo pernah membela sebuah klub yang merupakan rival abadi klub lain yang pernah dibela sebelumnya. Seperti yang pernah ia lakukan ketika berseragam Real Madrid dan juga AC Milan

Begitu banyak yang telah diraih Ronaldo sepanjang karirnya di dunia sepakbola, sehingga tidak salah apabila Ronaldo adalah salah satu pemain legenda di dunia sepakbola, dan bagi saya dia adalah pemain terbaik di dunia sepanjang masa.

Sumber utama :

http://en.wikipedia.org/wiki/Ronaldo

8 thoughts on “Ronaldo Luis Nazario da Lima (2)

  1. FAST PRE ORDER

    kaos THERE’S ONLY ONE RONALDO Luís Nazário de Lima
    desain alus wajib liat gan dijamin gak nyesel deeh

    _http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11474115

    80k kuota 12pcs angkat produksi cuma 5hari
    minat 085659683000

  2. kayaknya perlu berjabat tangan neh..
    kita sama dalam berapa hal :
    1. Penggemar Ronaldo
    2. Internisti
    3. alumni geodesi
    4.barudak bandung
    5. dirimu nugraha, gw nugroho🙂

    geodesi mana ?
    salam

    • Wow kebetulan yang menarik, Saya terima jabat tangannya, heheheheeh …….😀

      Bukan dari Geodesi pas waktu kuliah dulu, cuman nyasar aja pas gawe jadi ke kerjaan yang ada hubungannya sama Geodesi. Dulu kuliah di ITB mas.

      • ow begitu…
        saya dulu jualan cuanki dari 99-04
        nangkringnya di depan IMG🙂

        lha kok bisa dirimu jadi jualan citra ? mangnya dulu ngambil apa di itebe ?

      • Asli jualan cuanki?hebat, hebat …. jadi mas Geodesi ITB angkatan 99?

        Di ITB dulu di ex-Departemen Geofisika-Meteorologi. Awal kerja jadi staff Geofisika (GPR), sebelum akhirnya kenal sama Remote Sensing dan GIS pas ada project dari pemerintah. Saya banyak belajar dari master-master Geodesi waktu itu, jadinya sekarang saya malah lebih banyak tahu mengenai RS dan GIS, walau masih belum jadi ahli dan masih harus terus belajar yang banyak. Jualan citra sendiri, karena saya sudah tahu link-link untuk membelinya dimana. Begitu mas ceritanya ….. hehehehe😀

  3. nais…
    iyah dulu sambil jualan banyak ngobrol sama anak2 IMG tentang Remote Sensing
    iseng2 bikin presentasi ttg analisis spektral campuran di depan Pak Ketut Wikantika (kenal tak ?)
    eh…habis presentasi, 2 bulan kemudian malah diusir lewat sabuga🙂

    gut lak yak
    diriku malah tidak bergelut dengan geodesi sama sekali, malah sibuk jualan terus
    eniwey, jadi inspired buat nulis di wordpress juga
    matur tengkyu pisan kawa

    moga inter bisa kambek lagi ya

    • Sip, terima kasih Kang, semoga sukses.

      Pak Ketut, saya tidak tahu, tapi saya pernah belajar sama Pak Agung, waktu itu menjabat jadi Ketua Magister Prodi Geodesi dan Geomatika.

      Ya mudah2an inter bisa juara lagi musim depan. Musim ini sudah tidak ada harapan, hehehehe ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s