Inter News (23 Juni 2011)

Pekan ini yang menjadi isu terhangat di Inter adalah siapa pengisi kekosongan kursi allenatore alias pelatih utama di Inter, sepeninggal Leonardo yang menerima tawaran menjadi Direktur Teknik di Paris Saint Germain (PSG). Awalnya Sinisa Mihajlovic, yang merupakan mantan pemain Inter dari tahun 2004 sampai dengan 2006 – dan sekarang ini melatih tim Fiorentina, coba dirayu agar bisa melatih Inter buat musim depan, namun ternyata Mihajlovic memilih untuk tetap bersama Fiorentina musim depan.

Marcelo Bielsa, merupakan nama lain yang coba dibujuk oleh manajemen Inter untuk menukangi Inter musim depan. Namun sama halnya dengan Mihajlovic, Bielsa menolak bujukan Inter dengan alasan masalah keluarga. Nama selanjutnya yang muncul adalah nama pelatih Inggris saat ini yaitu Fabio Capello, akan tetapi jawaban Capello ternyata sama dengan jawabannya musim lalu yaitu menolak pinangan Inter dan lebih memilih bertahan dengan tim Inggris. Setelah gagal dengan Mihajlovic, Bielsa, dan juga Capello, Inter beralih mencoba mendatangkan pelatih yang musim lalu sukses besar mengantarkan Porto meraih Treble Winner, yaitu Andre Villas Boas. Namun Villas Boas memilih untuk menangani Chelsea musim depan, setelah Inter seperti tidak berani membayar buy out clause Villas Boas sebesar 15 juta Euro kepada FC Porto.

Penolakan pelatih-pelatih yang coba didatangkan Inter musim depan lebih kepada pelatih-pelatih tersebut masih terikat  kontrak dengan tim-nya saat ini, kecuali Bielsa yang menolak karena alasan keluarga, selain Villas Boas yang gagal dibajak oleh manajemen Inter. Oleh karena itu, nampaknya Inter lebih baik mencari pelatih beken yang saat ini masih nganggur, seperti :

1. Frank Rijkaard

Frank Rijkaard / jagobola.com

Rijkaard saat ini dalam keadaan tidak menangani tim manapun,  setelah dipecat oleh Galatasaray (Turki) pada awal musim  2010-2011. Walau gagal bersama Galatasaray, namun Rijkaard  masih layak dimasukkan dalam jajaran pelatih top Eropa,  dengan kesuksesannya bersama Barcelona beberapa waktu  silam. Selain itu, boleh dibilang landasan gaya bermain  Barcelona saat ini diletakkan oleh seorang Rijkaard dengan filosofi sepakbola menyerang ala Total Football-nya, sehingga  fans Inter dapat berharap banyak bahwa Inter di bawah  Rijkaard dapat memeragakan permainan menyerang yang  indah dilihat layaknya gaya bermain Barcelona.

Tanggapan

Rijkaard senang sekali bermain dengan pola 4-1-2-2-1 atau terkadang menjadi 4-3-3, pola bermain yang mencerminkan attacking football yang sangat kentara. Dari pola tersebut terlihat bahwa Rijkaard hanya memainkan satu gelandang bertahan atau bahkan tidak menggunakan gelandang bertahan yang murni sama sekali. Formasi kesukaan Rijkaard memang sangat cocok diperagakan di Barca, karena memang waktu itu gelandang Barcelona dipenuhi oleh gelandang serang yang sangat kreatif, seperti Xavi, Iniesta, Deco, Lionel Messi, serta Giovani Dos Santos. Sedangkan 3 penyerang di depan, dengan satu penyerang jadi target man dan dua penyerang lainnya seolah-olah berperan sebagai sayap yang lebih dekat dengan kotak penalti, juga dapat dijalankan Rijkaard di Barca, karena stok penyerang Barca saat itu juga dipenuhi individu dengan skill yang luar biasa. Target man waktu itu diemban oleh Samuel Eto’o dengan didukung oleh Thierry Henry dan juga Ronaldinho, serta pelapisnya seorang Eidur Gudjhonsen dan juga Lionel Messi atau Bojan Krkic.

Pola yang disukai oleh Rijkaard tersebut agak sulit diterapkan di Inter sekarang ini, mengingat stok pemain tengah Inter saat ini lebih didominasi dengan para pemain dengan naluri bertahan cukup besar, seperi Esteban Cambiasso dan Thiago Motta, sedangkan Stankovic, Kharja, Mariga, dan Chukwuma, merupakan gelandang serang yang juga mempunyai naluri bertahan cukup baik. Mungkin hanya Sneijder dan Coutinho yang akan masuk dalam skema permainan Rijkaard dengan pola tersebut, karena kedua gelandang tersebut merupakan gelandang serang yang kreatif membongkar pertahanan lawan dengan skill individu-nya yang diatas rata-rata, namun bahayanya Inter tidak punya pelapis sepadan jika mereka berdua absen bermain. Untuk posisi penyerangan pun, mungkin hanya Eto’o saja yang akan masuk ke dalam skema permainan Rijkaard. Eto’o memiliki peran seorang target man ketika ia bermain di Barcelona di bawah skema permainan Rijkaard, sehingga nampaknya posisi target man akan kembali dijalankan Eto’o jika Rijkaard melatih Inter dan memainkan pola kesukaannya tersebut.Sedangkan sisa penyerang yang ada seperti Milito dan Pazzini akan sulit untuk ditempatkan layaknya Henry dan Ronaldinho ketika di Barcelona, karena Milito dan Pazzini akan lebih cocok untuk bermain sebagai target man juga, karena kedua penyerang Inter tersebut unggul di penempatan posisi dan kemampuannya menyelesaikan sebuah peluang.Yang tersisa untuk dijadikan penyerang sayap yang akan membantu seorang Eto’o adalah Goran Pandev serta David Suazo. Untuk Pandev, peran sebagai penyerang sayap pernah berapa kali ia perankan ketika Inter masih berada di bawah asuhan Mourinho, dan hasilnya cukup memuaskan. Namun saat ini penampilan Pandev boleh dibilang sedang menurun, begitu juga Suazo yang lebih banyak duduk di bangku cadangan, serta selain itu Rijkaard nampaknya lebih senang penyerang sayap yang mempunyai skill individu diatas rata-rata, karena mereka akan diinstruksikan untuk melewati terlebih dahulu beberapa bek lawan sebelum melepaskan umpan kepada penyerang lain yang bertindak menjadi seorang target man. Untuk itu, nampaknya Rijkaard mau tidak mau harus mengubah formasi kesukaannya dengan skuad Inter yang ada sekarang, kecuali pas bursa transfer musim ini Inter mendapatkan pemain tengah yang cukup kreatif seperti Ganso serta penyerang sayap layaknya seorang Alexis Sanchez.

2. Jurgen Klinsmann

Jurgen Klinsmann / mirror.co.uk

Klinsmann merupakan pembawa perubahan bagi gaya bermain tim nasional Jerman waktu bermain di Piala Dunia 2006. Dengan mengandalkan pemain yang berusia masih muda di tim-nya, Jerman waktu itu memeragakan permainan ofensif yang berbeda jauh dengan patron yang biasa dimainkan tim nasional Jerman. Keberhasilannya membawa perubahan di tim nasional Jerman membuat diri-nya kala itu ditawari banyak tawaran melatih di tingkat klub, selepas membawa Jerman menempati posisi ke-3 di Piala Dunia 2006. Dan akhirnya Klinsmann membesut Bayern Munchen pada musim 2008/2009, dengan catatan prestasi kurang menyakinkan yaitu gagal membawa Munchen mempertahankan gelar juara Liga Jerman dan kandas melawan Barcelona di Liga Champions pada musim tersebut.

Tanggapan

Klinsmann sangat senang sekali dengan para pemain muda, seperti yang ia tunjukkan ketika ia menangani tim nasional Jerman dan juga Bayern Munchen. Oleh karena itu kalau ia menangani Inter ada kemungkinan dia banyak mempromosikan para pemain primavera Inter untuk gabung ke skuad utama, seperti yang pernah Mancini lakukan ketika ia memasukkan nama Balotelli, Santon, dan banyak pemain muda lainnya ke tim utama Inter. Namun konsekuensinya adalah para fans Inter nampaknya harus sedikit bersabar untuk melihat Klinsmann membangun timnya, karena memainkan para pemain muda yang kurang berpengalaman di Seri-A akan membutuhkan waktu yang cukup lama agar para pemain muda tersebut dapat beradaptasi dengan kerasnya Seri-A, dan apakah Moratti juga akan cukup bersabar?. Seperti yang fans Inter ketahui, Moratti tak pernah segan-segan memecat pelatih yang dianggapnya gagal membawa Inter meraih trofi, walau mungkin sang pelatih sedang membangun timnya secara bertahap. Sedangkan dari catatan seorang Klinsmann, dia merupakan pelatih yang ingin terlebih dulu membangun timnya secara bertahap seperti yang ia lakukan di tim nasional Jerman, di mana pas awal menangani tim nasional Jerman, ia dikritik habis-habisan oleh media dan juga legenda Jerman, Beckenbauer, atas kengototannya menggunakan para pemain muda yang tidak berpengalaman, yang berimbas kekalahan demi kekalahan yang diterima tim nasional Jerman. Dan butuh sampai 2 tahun, hingga akhirnya Klinsmann mampu membangun tim nasional Jerman dengan para pemain mudanya dan skema permainan ofensif kegemarannya. Berbeda dengan di tim nasional Jerman, di Munchen dia tidak mendapat kesempatan untuk membangun tim-nya secara bertahap karena keburu diberhentikan oleh manajemen Munchen akibat seringnya Klinsmann berbeda pendapat dengan jajaran manajemen Munchen kala itu. Jadi kalo Klinsmann melatih Inter, apakah opa Moratti siap bersabar menunggu Klinsmann membangun tim-nya?

3. Louis van Gaal

Louis van Gaal / fcbarcelona.com

Kegagalan membawa Munchen mempertahankan gelar Liga Jerman dan Piala Jerman, serta kembali kalah oleh Inter Milan di ajang Liga Champions, membuat van Gaal dipecat oleh manajemen Munchen bahkan sebelum kompetisi musim 2010-2011 usai. Inter mungkin bisa mencoba memakai jasa van Gaal ini, yang dikenal sangat galak dan disiplin terhadap para pemainnya. Mengusung pola permainan Total Football seperti pola permainan yang kebanyakan digunakan para pelatih dari Belanda, namun Total Football ala van Gaal tidak sefrontal Frank Rijkaard, dimana van Gaal masih menerapkan keseimbangan yang cukup antara menyerang dan bertahan.

Tanggapan

Menurut saya, van Gaal mungkin pelatih beken yang masih nganggur yang dapat dijadikan bidikan utama, jika melihat catatan prestasinya di berbagai klub yang pernah ia tangani. van Gaal bahkan pernah membuat klub medioker seperti AZ Alkmaar menjadi tim yang disegani di Belanda, dan bahkan puncaknya pada musim 2008-2009, van Gaal berhasil mengantarkan AZ juara Liga Belanda. Kegagalan total yang mungkin bisa dialamatkan kepada van Gaal adalah ketika dia gagal mengantarkan tim nasional Belanda melaju ke putaran final Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang. Dan hal penting lainnya adalah, van Gaal tidak dikaitkan dengan tim besar lain yang saat ini membutuhkan pelatih, sehingga kans untuk mendapatkan van Gaal cukup besar.

Selain pelatih-pelatih beken diatas, banyak pelatih-pelatih lain yang dikaitkan dengan Inter, dan kebanyakan dari mereka, merupakan pelatih yang biasa menangani tim-tim medioker, seperti :

4. Gian Piero Gasperini

Gian Piero Gasperini / fantacalcioblog.it

Gasperini sampai saat ini merupakan pelatih yang sangat santer dikaitkan dengan kursi kepelatihan Inter. Mantan arsitek Genoa ini, berstatus pengangguran setelah dipecat manajemen Genoa di musim ini, setelah hanya meraih 10 poin dari 11 pertandingan di kompetisi Seri-A. Namun sebelum itu, ia berhasil menyulap Genoa menjadi salah satu tim tangguh di Seri-A, yang puncaknya terjadi pada musim 2008-2009, dimana ia berhasil membawa Genoa menempati posisi ke 5 di Seri-A, yang merupakan posisi tertinggi yang didapatkan Genoa dalam 19 tahun terakhir. Pola permainan yang diusungnya sungguh berani : 3-4-3, merupakan pola yang benar-benar ofensif untuk sebuah tim medioker seperti Genoa. Jika ia dipilih manajemen Inter untuk menjadi pelatih di musim depan, maka ia akan bereuni dengan beberapa pemain yang ia orbitkan selama melatih di Genoa seperti Diego Milito, Thiago Motta, Andrea Ranocchia, dan Housine Kharja.

Tanggapan

Ia merupakan pelatih yang out of the box kebanyakan pelatih dari Italia, karena pola permainannya yang menerapkan strategi menyerang ketimbang bertahan seperti kebanyakan pelatih-pelatih dari Italia gunakan. Permainan atraktif yang ia ciptakan di Genoa, membuat dia mendapatkan berbagai pujian dari berbagai kalangan. Inter bisa mencoba pelatih ini di musim depan, dan berharap dia bisa menyulap Inter menjadi tim dengan permainan yang atraktif serta dapat mempersembahkan sukses bagi Inter, seperti yang dilakukan Massimiliano Allegri di Milan. Hal lain yang menjadi keuntungan jika ia jadi melatih Inter adalah taktik permainan dia sudah dimengerti oleh beberapa punggawa Inter yang dulunya berseragam Genoa, sehingga Gasperini tidak akan terlalu lama membangun tim. Namun hal yang umum dikhawatirkan kepada pelatih yang terbiasa menangani tim-tim medioker adalah apakah mereka bisa tahan dengan tekanan dari berbagai pihak seperti presiden klub, fans, ego para pemain, dan tekanan-tekanan lain yang akan didapatkan ketika menangani sebuah tim besar seperti Inter.

5. Delio Rossi

Delio Rossi / pesatnews.com

Delio Rossi merupakan pelatih lain yang senang memeragakan sepakbola atraktif. Rossi mulai banyak mendapatkan perhatian semenjak menangani Lazio, karena kemampuannya meracik kumpulan pemain yang kurang dikenal di Lazio menjadi sebuah tim yang cukup padu dan menjadikannya menjadi salah satu kuda hitam di Seri-A. Selama di Lazio dia berhasil membawa timnya berada di posisi ke tiga pada musim 2007-2008, dan bahkan membawa Lazio juara Coppa Italia pada musim 2008-2009, dimana pada masa itu ia berhasil mendobrak dominasi Inter dan Roma di Coppa Italia. Prestasi yang cukup bagus selama menangani Lazio membawanya menangani Palermo mulai musim 2009-2010, sebuah klub dimana presidennya, Zamparini, merupakan sosok yang kontroversial dan ambisius. Zamparini sendiri pernah memecat Delio Rossi akibat kekalahan memalukan 0-7 dari Udinese di ajang Liga Italia, sebelum dia kembali memanggil Rossi untuk menangani tim di sisa kompetisi, setelah Zamparini memecat pengganti Rossi sebelumnya yaitu Serse Cosmi yang dipecat setelah kalah dari Catania di Derby Sicillia. Comeback Rossi ke Palermo di sisa kompetisi, membuahkan raihan prestasi runner-up Coppa Italia (kalah 1-3 dari Inter di final Coppa Italia).

Tanggapan

Catatan cukup baik selama menangani Lazio dan Palermo, membuat Rossi pantas dimasukkan kepada salah satu kandidat pelatih Inter musim depan. Apalagi Rossi sendiri sebelumnya mengindikasikan akan menerima pinangan Inter, jika Moratti menginginkannya melatih Inter. Poin positif lain selama dia menangani Lazio dan Palermo adalah kemampuannya mengorbitkan pemain-pemain yang kurang dikenal seperti Mauro Zarate, Goran Pandev, Rocchi, Kolarov, hingga seorang rising star, Javier Pastore di Palermo.

6. Gianfranco Zola

Gianfranco Zola / esportmag.com

Zola merupakan nama lain yang dikaitkan dengan kursi kepelatihan Inter, dimana saat ini dia tidak sedang melatih tim mana pun selepas menangani West Ham dari tahun 2008 sampai dengan 2010. Dia sempat menjadi asisten pelatih Pierluigi Casiraghi (mantan pemain yang terkenal ketika membela Lazio) untuk menangani tim nasional Italia U-21, dari tahun 2006 sampai 2008, sebelum akhirnya menangani West Ham United.

Tanggapan

Zola merupakan salah satu legenda persepakbolaan Italia. Kemampuan olah bola-nya merupakan salah satu yang terbaik di masanya, namun untuk urusan kepelatihan, nampaknya Zola belum memberikan prestasi yang cukup membanggakan. Selama menangani West Ham, dia hanya memberikan presentase kemenangan 28.75 %, dan membuat West Ham lebih banyak berjuang untuk meloloskan diri dari jurang degradasi ketimbang menjadi salah satu kuda hitam di pentas Liga Inggris.

Begitu banyak nama pelatih yang dikaitkan dengan Inter saat ini, namun kabarnya mereka yang akan jadi pelatih Inter musim depan, akan hanya menangani Inter untuk satu musim saja, karena isu besarnya Pep Guardiola akan menangani Inter mulai musim 2012-2013, setelah kontraknya selesai di Barcelona. Kita tunggu saja isu-isu yang semakin panas dan liar ini, semoga seperti kata Moratti beberapa waktu lalu, bahwa akhir minggu ini Inter akan mengumumkan nama pelatih yang akan menangani Inter musim depan.

Pep Guardiola - INTER New Boss in Season 2012-2013? / pesatnews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s