“Jejak” Manusia di Perhelatan Angklung for The World

relawan, relawan kaa, kaa, konferensi asia afrika, sampah, angklung for the world, stadion siliwangi, rekor bermain angklung, relawan kebersihan, pakistan, relawan pakistan, masalah kebersihan, sampah, pemberlakuan denda bagi pembuang sampah sembarangan

Perbedaan “Jejak” yang Ditimbulkan Hewan dan Manusia
(Sumber Gambar : http://en.ukneshin.com/1553/humans-and-animals-trace-in-the-environment)

Gambar di atas sebenarnya merupakan sebuah tamparan keras bagi manusia yang waras. Manusia yang diberi karunia berupa akal dan pikiran yang sempurna, namun kelakuannya lebih buruk dari hewan yang tidak memiliki hal tersebut. Apakah mereka tidak berfikir bahwa “jejak” yang mereka tinggalkan tersebut, selain tidak sedap dipandang mata, juga akan menimbulkan berbagai dampak buruk bagi manusia itu sendiri dan makhluk hidup lainnya?.

“Jejak” yang serupa dengan gambar di atas, saya temui ketika perhelatan Angklung for The World telah usai.

relawan, relawan kaa, kaa, konferensi asia afrika, sampah, angklung for the world, stadion siliwangi, rekor bermain angklung, relawan kebersihan, pakistan, relawan pakistan, masalah kebersihan, sampah, pemberlakuan denda bagi pembuang sampah sembarangan

Sampah yang Berserakan Seusai Perhelatan Angklung for The World
(Sumber Foto : Foto Pribadi)

Pemandangan berupa sampah yang berserakan langsung tersingkap, ketika para peserta yang ikut dalam perhelatan Angklung for The World, telah meninggalkan Stadion Siliwangi. Stadion yang biasanya dijejali oleh “lautan” bobotoh ketika Persib masih menggunakan stadion ini sebagai home base mereka, saat itu dijejali oleh “lautan” sampah yang ditimbulkan para “oknum” peserta yang dengan tanpa rasa malu dan bersalah meninggalkan sampah sebagai jejak ketidakberadaban mereka.

BACA JUGA :

1). Sedia Payung Saat KAA

2). Sempurna di Hari – H

3). Ngaleut ke Wilayah Markas Besar Kang Bahar

4). Mewahnya “Tempat Ngaso” Terakhir Etnis Tionghoa

5). Ada “Sesuatu” di Jalan Kecil itu

Tertinggalah saat itu, saya dan kawan-kawan relawan dari formasi PAKISTAN sibuk membersihkan jejak para “oknum” tersebut, yang terutamanya berada di area tribun stadion. Rasa miris pun menghinggapi diri saya begitu melihat banyaknya sampah yang berserakan, padahal di dekatnya tersedia kantong sampah berukuran besar yang masih belum penuh oleh sampah. Sebegitu malasnya-kah mereka untuk beranjak dari tempat duduk dan memasukkan sampah mereka sendiri ke dalam tempat yang seharusnya.

Peristiwa tersebut setidaknya merefleksikan berada di level manakah kesadaran kebanyakan masyarakat kita mengenai sampah dan kebersihan. Boro-boro untuk memilah sampah, bahkan untuk sekedar menempatkan sampah pada tempatnya, kebanyakan masyarakat kita belum terbiasa melakukannya, bahkan ketika letak tempat sampahnya dekat dengan posisi dia berada, maka tidak terbayang bagaimana kalau jumlah tempat sampah di area tersebut minim atau malah tidak ada tempat sampah sama sekali.

Oleh karena itu, saya kurang setuju dengan pendapat seseorang yang mengatakan bahwa kebersihan suatu area publik di Bandung tidak terkait dengan jumlah tempat sampah yang ada di area tersebut, dimana hal tersebut ia dasarkan pada keadaan negara Jepang, Korea Selatan, atau Singapura, yang tetap bersih walau minim tempat sampah, dan ia lebih menekankan pada pentingnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Justru saya melihat karena kesadaran masyarakat kita yang masih sangat rendah, maka kita perlu mengedukasi masyarakat dimulai dari level kesadaran masyarakat kita berada, dengan di dukung keberadaan infrastruktur yang memadai salah satunya berupa ketersediaan jumlah tempat sampah yang cukup banyak.

Saya sendiri punya impian bahwa kelak di Kota Bandung, sebuah tempat sampah dengan ukuran cukup besar akan akan tersedia tiap 10 atau 20 meter, karena dengan hal tersebut, saya berpikir akan membuat masyarakat lebih sering membuang sampah pada tempatnya dibandingkan membuang sampah secara sembarangan, yang disebabkan kemudahan untuk menemukan tempat untuk membuang sampah. Harapannya di masa mendatang, ketika masyarakat lebih sering membuang sampah pada tempatnya, akan menjadikannya sebuah kebiasaan baru, sehingga nantinya akan terbentuk perasaan risih dan tidak terbiasa untuk membuang sampah secara sembarangan.

Selain itu saya melihat perlunya pemberlakuan hukuman berupa denda bagi yang membuang sampah sembarangan – hal yang pernah digaungkan PemKot Bandung, namun sayangnya semakin kesini gaungnya makin tidak terdengar dan penegakannya semakin tidak terlihat. Hal ini saya kira cukup penting dan efektif untuk mempercepat tingkat kesadaran masyarakat terhadap masalah sampah itu sendiri. Sebagai contoh, bagaimana dulunya warga Bandung jarang sekali yang menggunakan helm ketika menggunakan sepeda motor, namun ketika pihak kepolisian gencar melakukan penilangan kepada para pengendara sepeda motor, maka kita bisa lihat saat ini di jalan-jalan Kota Bandung, jarang sekali pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Mungkin awalnya masyarakat terpaksa mengikuti peraturan penggunaan helm tersebut karena ketakutan terkena tilang, namun lama-kelamaan masyarakat akan terbiasa dengan penggunaan helm dan mulai menyadari dan perduli terhadap keselamatan dirinya, dan begitu juga harapan saya dengan pemberlakuan denda terhadap aturan membuang sampah sembarangan ini, dimulai dari ketakutan dan keterpaksaan, lama kelamaan menjadi kebiasaan dan akhirnya perduli terhadap masalah sampah.

Namun dibalik masih rendahnya kesadaran masyarakat saat ini terhadap sampah, ada sedikit harapan bahwa generasi mendatang akan lebih sadar terhadap permasalahan ini, ketika saya melihat kawan-kawan relawan dari formasi PAKISTAN sebagian besar merupakan generasi muda yang masih bersekolah di tingkatan sekolah menengah ataupun kuliah, bahkan saya melihat ada anak kecil yang saya perkirakan masih berada di bangku sekolah dasar ikut serta menjadi seorang relawan, dan mereka sangat perduli terhadap permasalahan ini dan ikut menyebarkan “virus” anti membuang sampah sembarangan kepada masyarakat luas.

relawan, relawan kaa, kaa, konferensi asia afrika, sampah, angklung for the world, stadion siliwangi, rekor bermain angklung, relawan kebersihan, pakistan, relawan pakistan, masalah kebersihan, sampah, pemberlakuan denda bagi pembuang sampah sembarangan

Relawan Cilik
(Sumber Foto : Foto Pribadi)

Semoga saja di masa mendatang, ketika terdapat lagi event pemecahan sebuah rekor, sudah tidak ada lagi rekor sampingan berupa jumlah sampah yang dihasilkan pada event tersebut, serta tidak diperlukannya lagi para relawan yang harus mengedukasi serta membersihkan sampah-sampah yang berserakan, karena pada saat itu, masyarakat sudah tahu harus memperlakukan sampahnya seperti apa.

Postingan Menarik Lainnya :

1). [Tutorial] “PANSHARP” Data Citra Satelit di Global Mapper

2). Plot Data Titik Koordinat di Global Mapper

3). Membuat Area Secara Otomatis di Global Mapper

4). [Tutorial] Copy-Paste Titik Koordinat Data Citra Satelit

5). Smoothing Data DEM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s