Ketersediaan Waktu di Fase Dewasa

young_adult_old_time_money_energy_comparison_2013-06-21

Gambar di atas saya dapatkan dari DP BBM seorang kawan. Tidak sepenuhnya benar memang, apalagi mereka yang fase adult (dewasa) dan old (tua)-nya dilewati di negara dunia ketiga, seperti hal-nya di negara kita – Indonesia, mungkin bagian money (uang)-nya bisa agak dikurangin. Pendapatan kebanyakan orang-orang yang berada di usia produktif dan juga orang-orang yang sudah masuki masa tua-nya di negara ini, hanyalah di sekitaran 5 koma alias baru tanggal lima udah koma aja. Untuk bertahan hidup di sisa hari yang ada, maka warung-warung depan rumah menjadi sasaran buat diutangin, plus mungkin minjam sama para renten yang menghaluskan sebutannya menjadi bank keliling. Ditambah dengan kenyataan bahwa masih banyak saat ini, mereka yang masuk kategori dalam usia produktif masih menadahkan tangannya ke orang tua dan menjadi beban bagi saudara-saudara yang lain, akibat susahnya mencari kerja di negara yang konon justru di  masa mendatang akan menerima puluhan juta tenaga kerja asal Tiongkok (huft!).

Namun sebenarnya yang menarik perhatian saya pada gambar di atas, ada di bagian time (waktu) pada fase adult (dewasa) – fase yang saat ini sedang saya dan kawan-kawan satu angkatan saya sedang jalani. Mungkin gambaran di atas sedikit mewakili apa yang saya rasakan saat ini. Berkumpul dengan kawan-kawan dekat sangatlah sulit, karena kebanyakan dari mereka sudah sibuk dengan tanggung jawab dan kewajiban mereka pada pekerjaan masing-masing, dan kalaupun tersedia waktu libur atau senggang, mereka akan lebih menghabiskannya dengan keluarga kecil mereka. Dan saya sangat memaklumi hal itu, karena mungkin kebersamaan kawan-kawan dengan istri atau anaknya sangat kurang mengingat di hari-hari biasa disibukkan oleh seabreg pekerjaan, dan mereka berusaha menebusnya di kala off dari pekerjaan.

BACA JUGA :

1). “Jejak” Manusia di Perhelatan Angklung for The World

2). Sedia Payung Saat KAA

3). Sempurna di Hari – H

4). Ngaleut ke Wilayah Markas Besar Kang Bahar

5). Mewahnya “Tempat Ngaso” Terakhir Etnis Tionghoa

Tersisalah mereka yang belum berkeluarga seperti saya ini, masih dapat meluangkan waktu setidaknya satu bulan sekali untuk berkumpul dan ngobrol ngalor – ngidul dengan kawan yang juga masih melajang, walau ada juga segelintir kawan-kawan yang sudah punya keluarga, tetap mau meluangkan waktunya untuk dapat berkumpul, namun dengan frekuensi kedatangan yang dapat dihitung dengan jari.

Obrolan ngalor-ngidul memang masih dapat dilakukan di grup BBM, WA, LINE, atau media chatting apa pun lah, namun pertemuan fisik akan selalu membuat keterikatan perasaan yang lebih dalam ketimbang hanya “berbicara” lewat layar handphone ataupun komputer. Oleh karena itu, saya tidak menganggap bahwa pertemuan dengan kawan-kawan, walaupun berbincang mengenai hal-hal yang tidak penting, merupakan sesuatu hal yang sia-sia, karena dari obrolan yang santai itulah keakraban sedang dibangun dan keterikatan akan semakin terjalin. Lain dari hal di atas, seperti kata Rasulullah, silaturahmi akan memperpanjang umur dan memperluas rezeki seseorang, jadi sempatkanlah bertemu walau hanya sebentar dengan kawan-kawan yang masih mampu kita temui, dan jangan hanya mau menyempatkan diri bertemu dengan kawan-kawan hanya karena kita sedang butuh dengan mereka.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA :

1). [Tutorial] “PANSHARP” Data Citra Satelit di Global Mapper

2). Plot Data Titik Koordinat di Global Mapper

3). Membuat Area Secara Otomatis di Global Mapper

4). [Tutorial] Copy-Paste Titik Koordinat Data Citra Satelit

5). Smoothing Data DEM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s