Main Air di Dekat Tempat Kekinian

Waktu kecil dulu, bermain di bawah guyuran air hujan merupakan hal yang paling dinanti. Saat hujan turun, tanpa komando, saya bareng kawan-kawan dekat rumah, keluar rumah hanya memakai kostin (celana dalam), bahkan kadang ada kawan yang gak pake apa-apa lagi alias telanjang kotak eh telanjang bulat, buat menikmati guyuran air dari langit. Tanpa menghiraukan suara si mamah yang berteriak menyuruh masuk ke rumah, saya dan kawan-kawan menikmati momen dimana air membasahi tubuh kami sambil saling teriak satu sama lain, joget-joget, nyanyi-nyanyi, bahkan terkadang di “padu padankan” dengan kegiatan maen bola, ucing sumput (petak umpet), galah asin, rarabonan, dan berbagai permainan yang dulu banyak dilakukan sama anak-anak yang lahir sebelum masuk ke milenium baru.

BACA JUGA :

1). Rafting Seru di Sungai Palayangan – Pangalengan

2). Ontbijt Walanda di Bandoeng

3). Sempurna di Hari – H

4). Ngaleut ke Wilayah Markas Besar Kang Bahar

5). Mewahnya “Tempat Ngaso” Terakhir Etnis Tionghoa

Kalau ingat masa itu, bersyukur banget bahwa saya terlahir di masa kata gadget belum ada, komputer dan internet masih barang langka, konsol game masih merupakan barang wah yang hanya dimiliki anak orang kaya – sehingga ketika hujan turun saya menganggapnya sebagai wahana permainan air gratis dari alam yang harus dinikmati bareng kawan-kawan. Hal yang berbeda dengan kondisi sekarang, ketika hujan turun, anak kecil sekarang lebih seneng ngerem di rumah sambil mainin gamegame yang ada di laptop, tablet, atau handphone milik orang tuanya. Memori masa kecilnya akan lebih dominan diisi sama Angry Birds, Flappy Bird, ataupun Bad Piggies, dan bukan keceriaan ketika main air hujan bareng kawan-kawan sebayanya.

Keceriaan ketika main air di bawah guyuran air hujan itu ingin sekali diulang, namun kalau saya lakuin sekarang ini, maka tetangga mungkin akan bilang saya orang stres. Kebayang aja misalnya ketika hujan turun, saya keluar rumah hanya memakai CD aja sembari teriak atau joget-joget, mungkin dalam selang waktu yang tidak lama, saya bakalan digiring ke rumah sakit yang ada di Jalan Riau sama Pak RT. Karena hal tersebut hampir gak mungkin dilakuin – kecuali udah beneran stres, maka harus dipikirin cara lain buat menikmati main di bawah guyuran air dari alam.

Untunglah alam masih memberikan kesempatan bagi generasi jadul untuk mengulang keceriaan di masa kecil ketika main air hujan dulu, lewat kreasi indah yang diciptakan oleh Allah SWT yang bernama curug, dimana salah satu curug yang saya rekomendasiin buat dikunjungin yaitu Curug Cimahi yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Curug yang airnya berasal dari aliran Sungai Cimahi ini, tempatnya asri, cukup bersih dan terawat – walau masih ditemui beberapa sampah yang berserakan di beberapa area (sesuatu hal yang gak aneh kalo di Indonesia – justru kalau bersih banget malah kita harus banyak berdoa, pertanda bentar lagi matahari bakalan terbit dari barat).

Terdapat 500-an anak tangga yang harus dituruni sebelum hasrat bermain air di curug terpenuhi. Jika kerasa cape pas di perjalanan nurunin anak tangga tersebut, terdapat tempat buat istirahat yang bisa juga digunakan buat nongkrong bareng kawan-kawan sambil menikmati pemandangan di sekitar area curug.

curug cimahi, air terjun cimahi, curug pelangi, air terjun pelangi, anak tangga curug cimahi, dusun bambu, sarang burung dusun bambu, wisata bandung, wisata bandung raya

Santai Sejenak Sambil Menikmati Kreasi Luar Biasa dari Sang Maha Kuasa

Semakin ke bawah, bakal semakin jelas terdengar indahnya alunan “suara” yang dihasilkan oleh aliran air di curug tersebut yang jatuh dari ketinggian sekitar 87 meter yang disertai “bisikan halus” dari angin yang masuk ke telinga kita. Keindahan visual pun termanjakan dengan rimbunnya pepohonan di area sekitar curug, membuat sejenak melupakan pemandangan yang semrawut di perkotaan.

Hasrat bermain air dapat terlampiaskan sesampainya di curug, namun jangan terlalu dekat dengan curugnya, karena derasnya air serta kuatnya angin yang berhembus, bisa membuat telinga jadi sakit. Cape main air, kita bisa duduk-duduk di batu-batu besar sambil welfie bareng pasangan (itu juga kalau punya sih) atau kalau lapar bisa makan di warung-warung yang ada di situ, tapi kalo lagi kere, bawa aja makanan dari rumah lalu makan lesehan di rumput yang bergoyang dengan resiko makan bareng semut sama nyamuk. Selesai main di curug, maka siapkan stamina lebih, karena kita akan pulang dengan kembali menapaki tangga yang jumlahnya ratusan.

Masih punya uang dan waktu?, beres dari Curug Cimahi, bisa mampir ke tempat kekinian yang hits dengan tempat makannya yang berbentuk seperti sangkar burung yaitu Dusun Bambu, yang lokasinya sangat dekat dengan Curug Cimahi.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA :

1). Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Musibah Topan Pam di Vanuatu

2). Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Topan Haiyan

3). Melihat Kerusakan Akibat Tornado via Citra Satelit

4). Melihat Bumi Berubah Menggunakan Citra Satelit 

5). Citra Satelit Kebakaran Lahan dan Hutan di Provinsi Riau

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s