Semut dan Kenikmatan Semu

semut, kopi, kenikmatan semu di dunia, kenikmatan kekal di akhirat

Hanya selang beberapa menit setelah saya tinggalkan kopi di atas meja kerja, gerombolan semut mengerubungi kopi yang sedang saya minum tersebut. Perasaan geram langsung menyelimuti hati, karena kopi yang baru saya teguk, tidak bisa saya nikmati kembali. Dan hal itu sudah seringkali terjadi dan membuat kopi yang saya buat menjadi mubazir.

Namun ada hal yang menarik dan bisa menjadi pelajaran bagi saya mengenai kejadian tersebut. Saya melihat bahwa semut-semut yang hendak menikmati manisnya kopi ternyata harus mati di dalam genangan air kopi. Jasad semut-semut penghisap manisnya kopi bertebaran di atas permukaan air kopi. Semut-semut tersebut mungkin hanya menikmati sedikit sekali manisnya kopi yang mereka cicipi, untuk selanjutnya mati karena tidak bisa berenang. Bodoh sekali pikir saya waktu lihat kejadian tersebut, semut-semut itu tidak berfikir bahwa kenikmatan sementara itu justru membawa petaka bagi mereka sendiri. Akan tetapi setelah pikiran saya jernih, saya mulai sadar mereka hanyalah binatang yang tidak diberi akal oleh Allah, mereka hanya menuruti hawa nafsunya saja terhadap kenikmatan yang mereka bisa reguk.

BACA JUGA :

1). Rancaekek : Kereta Api dan Rumah Jodi

2). Hampuran Bunga dan Patung yang Random di Kebun Begonia

3). Main Air di Dekat Tempat Kekinian

4). Rafting Seru di Sungai Palayangan – Pangalengan

5). Ontbijt Walanda di Bandoeng

Peristiwa di atas menjadi pelajaran bagi saya sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi diberi akal untuk menafakuri diri dan tidak berbuat terus menerus menuruti hawa nafsu, seperti apa yang semut lakukan pada kopi yang saya buat. Betapa kebanyakan manusia saat ini termasuk saya juga di dalamnya, lebih berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai kenikmatan dunia yang hanya sementara waktu  dinikmati, dan menyisihkan hanya sedikit waktu untuk kehidupan setelah kematian kelak. Kenikmatan dunia yang ingin digapai nyata-nyata telah melalaikan saya, dan juga mungkin akan menenggelamkan saya kedalam kehancuran seperti halnya peristiwa semut di atas – andai terus menerus ingin menggapai kenikmatan semu tersebut. Bahkan yang lebih miris lagi betapa sekarang manusia sudah tidak mengindahkan bagaimana jalan yang ditempuh untuk menempuh kebahagiaan semu tersebut, halal-haram tidak menjadi soal, asal gue bahagia – mungkin pikiran tersebut telah menjangkiti pikiran banyak orang saat ini.

Semut dan kelakuannya telah menyadarkan saya bahwa selama ini justru saya lebih bodoh di hadapan Allah dibandingkan semut tersebut. Sudah diberi akal akan tetapi masih saja lebih berusaha mati-matian untuk menggapai kenikmatan semu dan sementara di dunia ini, dan telah lalai memikirkan kenikmatan yang kekal kelak.

POSTINGAN MENARIK LAINNYA :

1). Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Musibah Topan Pam di Vanuatu

2). Citra Satelit Sebelum dan Sesudah Topan Haiyan

3). Melihat Kerusakan Akibat Tornado via Citra Satelit

4). Melihat Bumi Berubah Menggunakan Citra Satelit 

5). Citra Satelit Kebakaran Lahan dan Hutan di Provinsi Riau

5 thoughts on “Semut dan Kenikmatan Semu

  1. Bodoh sekali pikir saya waktu lihat kejadian tersebut, semut-semut itu tidak berfikir bahwa kenikmatan sementara itu justru membawa petaka bagi mereka sendiri. Akan tetapi setelah pikiran saya jernih, saya mulai sadar mereka hanyalah binatang yang tidak diberi akal oleh Allah, mereka hanya menuruti hawa nafsunya saja terhadap kenikmatan yang mereka bisa reguk.
    * Resep kalimat di bagian ieu (y)

  2. Pingback: Saya Tidak Lebih Pintar Dari Pada Seekor Semut | Bermain, Belajar dan Berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s